InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia diperkirakan bertahan di atas RM4.600 per ton pada November 2026. Prospek tersebut ditopang oleh penurunan produksi musiman, permintaan biodiesel yang tetap kuat, serta terbatasnya pasokan minyak nabati pesaing di pasar global.
Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyebutkan, pengurangan bea masuk impor minyak nabati oleh India turut membuka peluang pemulihan permintaan minyak sawit dalam beberapa bulan mendatang. Di saat yang sama, terbatasnya ketersediaan minyak bunga matahari dan minyak kedelai diperkirakan memperkuat posisi minyak sawit di pasar internasional.
Meski demikian, MPOC mengingatkan bahwa prospek harga masih menghadapi sejumlah risiko penurunan. Pelemahan harga energi dan konsumsi minyak nabati untuk pangan yang lebih rendah dari perkiraan, di tengah tekanan inflasi serta kondisi ekonomi global, dapat membatasi kenaikan harga.
Dalam laporan terbarunya, MPOC mencatat produksi minyak sawit Malaysia meningkat 16,4% menjadi 2,11 juta ton pada September 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh bertambahnya produksi tandan buah segar (TBS) dan membaiknya tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER).
Namun, produksi diperkirakan telah mencapai puncaknya pada September. Memasuki periode berikutnya, produksi Malaysia diproyeksikan menurun secara musiman selama lima bulan ke depan. Kondisi ini berpotensi mengurangi ketersediaan pasokan sekaligus memberikan dukungan tambahan terhadap harga CPO.
Ekspor Malaysia Diperkirakan Pulih
Dilansir InfoSAWIT dari New Straits Times, Jumat (23/10/2026), dari sisi perdagangan, ekspor minyak sawit Malaysia secara kumulatif selama sembilan bulan pertama 2026 masih meningkat 4,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian, pengiriman pada September turun 12,1% menjadi 1,12 juta ton.
BACA JUGA: DPRD Sulbar Telusuri Sengketa Lahan Sawit di Pasangkayu, Lima Perusahaan Disambangi
MPOC mengaitkan pelemahan tersebut dengan terbatasnya ketersediaan kapal di Selat Malaka serta meningkatnya persaingan dari Indonesia. Eksportir Indonesia mempercepat pengiriman menjelang penerapan aturan ekspor baru yang diumumkan pada Juni 2026 dan kenaikan bea keluar yang dijadwalkan berlaku pada Oktober, menyusul peningkatan harga referensi.
Penurunan ekspor Malaysia pada September diperkirakan hanya bersifat sementara. MPOC memproyeksikan pengiriman kembali meningkat signifikan pada Oktober hingga Desember 2026, seiring membaiknya ketersediaan kapal dan semakin ketatnya pasokan minyak nabati pesaing.
Penurunan harga CPO dari level tertinggi pada September juga dinilai dapat mendorong pembeli global mengamankan kebutuhan pasokan melalui kontrak pengiriman mendatang dengan harga yang lebih menarik.
BACA JUGA: Anomali Iklim Tingkatkan Risiko Karhutla, APHI Tekankan Pentingnya Mitigasi Berbasis Data
Pasokan Minyak Nabati Pesaing Menyusut
Di pasar global, gangguan logistik yang berkelanjutan di kawasan Laut Hitam masih membatasi aktivitas pengolahan biji bunga matahari. Akibatnya, pasokan minyak bunga matahari diperkirakan tetap terbatas dalam beberapa bulan mendatang, kecuali tersedia jalur pelayaran yang aman.
Kondisi tersebut terjadi meskipun produksi biji bunga matahari global pada 2027 diperkirakan mencapai rekor 65,3 juta ton, dengan sebagian besar pertumbuhan produksi berasal dari kawasan Laut Hitam.
Sementara itu, pasokan minyak kedelai dari Amerika Selatan diperkirakan mengetat karena kawasan tersebut memasuki musim tanam kedelai pada Oktober hingga Desember.
Kombinasi kondisi ini berpotensi meningkatkan daya saing minyak sawit. India diperkirakan akan meningkatkan ketergantungannya pada impor minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati sekaligus mengisi kembali persediaan setelah perayaan Diwali pada November.
Tren serupa berpotensi terjadi di China. Berkurangnya pasokan kedelai dari Brasil dapat mendorong peningkatan konsumsi minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Stok Menurun, Biodiesel Menjadi Penopang
Dari sisi pasokan, penurunan produksi musiman diperkirakan mulai mengurangi persediaan minyak sawit Malaysia. MPOC memperkirakan stok akan bergerak turun sejak November 2026 hingga Februari 2027.
BACA JUGA: KLH Dorong Inventarisasi Emisi GRK untuk Perkuat Industri Sawit Rendah Karbon
Pengurangan persediaan tersebut dipandang sebagai faktor pendukung harga, khususnya pada kuartal terakhir 2026, ketika pasar menghadapi potensi pengetatan pasokan.
Selain faktor produksi dan stok, permintaan biodiesel tetap menjadi salah satu penopang utama pasar minyak sawit. Harga energi yang relatif tinggi dinilai masih memberikan insentif bagi pencampuran biodiesel di berbagai negara.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan konsumsi minyak sawit Indonesia untuk biodiesel mencapai rekor bulanan sebesar 1,35 juta ton pada Agustus 2026. Angka tersebut 75% lebih tinggi dibandingkan konsumsi untuk kebutuhan pangan.
Jika disetarakan secara tahunan, kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel mencapai sekitar 16 juta ton. Besarnya konsumsi tersebut mengindikasikan Indonesia semakin mendekati penerapan penuh program mandatori biodiesel B50.
Dengan dukungan permintaan biodiesel, potensi penurunan produksi Malaysia, serta terbatasnya pasokan minyak nabati pesaing, MPOC memperkirakan harga CPO memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan di atas RM4.600 per ton pada November 2026. Namun, perkembangan harga energi, kondisi ekonomi global, dan realisasi konsumsi minyak nabati tetap menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar. (T2)









