Cerita Kapang, Dari Karyawan Kebun Hingga Jadi Petani Sawit Swadaya

oleh -579 Dilihat
infosawit
Dok. InfoSAWIT

InfoSAWIT, JAKARTA – Kehidupan manusia biasa, seringkali kurang menarik untuk diceritakan, apalagi ditulis. Lantaran banyak kesuksesan yang mampu diraih orang biasa yang kini sedang menikmati kesuksesan hidupnya. Namun, kisah perjuangan hidup seorang petani kelapa sawit, seakan tak pernah sirna menariknya.

Menariknya kisah hidup seorang petani kelapa sawit, yang masih berjuang di wilayah Kalimantan Timur, lantaran masih melakukan perjuangan untuk bisa membangun kebun sawitnya. Dari berjibaku mengolah lahannya, mencari benih sawit yang asli hingga melakukan budidaya.

Uniknya, kemampuan yang dimilikinya, bersumber dari pengalaman dan cerita-cerita yang didengarnya sepanjang hidupnya. Tatkala mulai mengenal dunia perkebunan kelapa sawit, Kapang yang kini berusia 50 tahun, belajar memahami bagaimana berkebun kelapa sawit dengan baik.

BACA JUGA: Pasang Plang Larangan Panen, Menyusul Mou Masyarakat Dengan Perusahaan Sawit Belum Final

“Sebenarnya, saya tidak pernah bermimpi bisa memiliki kebun sawit sendiri,” katanya menceritakan kisah hidupnya.

Ketertarikannya berkebun kelapa sawit, ketika dirinya bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit milik negara yaitu PTPN 6. Dirinya merantau dari Sulawesi Selatan, tanah kelahirannya, untuk berjuang hidup menjadi karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Menekuni pekerjaannya sebagai karyawan perkebunan, membuatnya banyak mengenal dunia kelapa sawit dari penanaman hingga perawatannya. “Waktu itu tahun 1990, saya merantau ke Kalimantan untuk bekerja di PTPN 6,” ujarnya menjelaskan, sewaktu  dirinya mulai mengenal perkebunan kelapa sawit.

Bertahan Hidup, Kerja Serabutan

Kapang yang berjuang hidup sebagai karyawan PTPN 6 ini, hanya mampu bertahan kerja di perkebunan kelapa sawit selama kurun waktu 10 tahun saja. Dirinya memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, ditahun 2000. Lantaran, pendapatan yang diterimanya setiap bulan, masih kurang mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

BACA JUGA: KPPU Periksa Dua Distributor Selaku Saksi Dalam Kasus Minyak Goreng  Sawit

“Sejak tahun 2000 itulah, saya mulai melakukan pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup,” katanya menceritakan pekerjaan yang dilakukan usai bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit. Bekerja serabutan, hingga bekerja membantu orang lain dilakoninya pula, guna mencari nafkah bagi keluarganya.

Pekerjaan serabutan yang dilakoni Kapang kala itu, merupakan bagian hidupnya untuk bertahan hidup. Kendati serba sulit, namun dirinya berjuang terus setiap harinya untuk mendapatkan penghasilan. Sembari menyisihkan penghasilannya untuk ditabung, Kapang selalu mencari kesempatan lain untuk lebih maju.

Hingga tahun 2010 silam, tatkala ada penawaran program perusahaan kepada masyarakat untuk menjadi petani plasma perkebunan kelapa sawit, dirinya bersama-sama dengan teman-temannya mendaftarkan diri untuk berpartisipasi. Ujung dinanti, ulam pun tiba, pepatah itu pula yang akhirnya mampu diraihnya.

BACA JUGA: Yuk Memanfaatkan Limbah Perkebunan untuk Pakan Ternak

“Kesempatan menjadi salah satu petani plasma, menjadikan kehidupan saya, perlahan-lahan mulai membaik,” katanya. Kendati masih sebagai pemula, namun berbekal pengalamannya bekerja di perkebunan kelapa sawit,menjadikan dirinya cepat beradaptasi dan berhasil membangun kebun sawit miliknya bekerjasama dengan perusahaan.

Secara bersamaan, berbekal tabungan yang diperolehnya selama bekerja, dirinya bersama teman-temannya, juga merintis kebun sawit mandiri. Namun, seringkali menghadapi kesulitan, lantaran banyak beredarnya barang palsu di masyarakat. “Sulit membangun kebun sawit secara mandiri, lantaran benih dan pupuk banyak yang palsu,” ujarnya bercerita. (T1)

Sumber: mejalah InfoSAWIT Edisi September 2016


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.