Tahun 2023: Rekor Suhu Tertinggi dan Dampak El Niño yang Mematikan

oleh -676 Dilihat
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Iklim El-Nino berdampak pada pasokan pangan.

InfoSAWIT, JAKARTA – Tahun 2023 telah ditandai sebagai tahun terpanas dalam sejarah catatan suhu global. Vice Chair Working Group I, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sekaligus Profesor Meteorologi dan Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Edvin Aldrian, menyatakan bahwa kenaikan suhu global mencapai 1,52 derajat Celcius, melampaui batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris sebesar 1,5 derajat Celcius. Hal ini menandakan eskalasi yang mengkhawatirkan dalam perubahan iklim global.

Menurut laporan IPCC, proyeksi kenaikan suhu bumi pada tahun 2030 akan lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Jika sebelumnya diproyeksikan suhu akan meningkat secara signifikan pada tahun 2052, temuan terbaru menunjukkan bahwa kenaikan suhu bisa terjadi lebih cepat, bahkan pada tahun 2042, sepuluh tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Hal ini mencerminkan eskalasi yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, mengindikasikan eskalasi yang lebih cepat dari yang pernah diprediksi sebelumnya, dan menekankan perlunya tindakan yang lebih tegas dalam mengatasi perubahan iklim.


“Suhu di bumi sudah melebihi 1,5 derajat Celcius sepanjang dua belas bulan, Januari hingga Desember 2023. Kondisi ini terjadi 10 tahun lebih cepat dari prediksi sebelumnya,” ungkap Prof. Edvin Aldrian.

BACA JUGA: Perkuat Kompetensi SDM Sawit BPDPKS Gelontorkan RP 435,67 Miliar, dan Dukungan Dana Riset Senilai Rp 613,32 Miliar

Dalam konteks tersebut, dampak El Niño pada tahun 2023 menjadi kritikal. Supari, Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa El Niño yang terjadi pada tahun tersebut dikategorikan sebagai El Niño Moderat, dengan indeks anomali suhu muka laut di Pasifik tengah mencapai nilai 2,0 pada Desember 2023.

Dampaknya sangat terasa, terutama dari Agustus hingga Oktober, dengan curah hujan yang sangat rendah di beberapa wilayah. Bahkan, di Lombok, NTB, kondisi tanpa hujan paling tinggi tercatat selama 222 hari.

“Sementara itu, kondisi tanpa hujan selama lebih dari dua bulan terjadi di wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah dan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan Papua. Hal ini mengakibatkan produksi pangan yang tidak maksimal di banyak daerah,” jelas Supari.

BACA JUGA: Kabul Wijayanto: Di 2023 Sawit Masih Berkontribusi Bagi Perekonomian Negara, Harga CPO dan TBS Sawit pun Cenderung Stabil

Kombinasi dari kenaikan suhu global yang cepat dan dampak ekstrem El Niño memberikan pukulan serius bagi ketahanan pangan dan lingkungan di berbagai wilayah. Menyadari urgensi situasi ini, langkah-langkah adaptasi dan mitigasi harus diambil segera untuk mengurangi dampak yang lebih besar di masa depan. (T2)

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com