Sebagai petani kelapa sawit, Suhar yang telah membantu kedua orang tuanya sejak usia muda itu, ikut terlibat mengelola perkebunan kelapa sawit yang dimiliki kedua orangtuanya. Jatuh dan bangun harga jual panen Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang berhasil dipanen dari kebunnya, sering kali menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Seingatnya, harga jual TBS sawit pernah melambung di tahun 1998, sehingga pendapatan dari hasil panen berlipat ganda. Kondisi waktu itu, banyak petani kelapa sawit yang terlena hidupnya, sehingga menjadi konsumtif. Namun, dirinya mendapatkan kesan berbeda dari kedua orangtuanya.
“Dahulu, ketika harga jual TBS sawit meningkat, orang tua lebih memilih untuk menabung hasil lebih yang didapatnya,” katanya seraya mengingat kejadian waktu lalu.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya di Konawe Utara Lakukan Pelatihan Budidaya Sawit Berkelanjutan Bersama SPKS
Orang tuanya, mensyukuri nikmat dari kenaikan harga waktu itu dengan menabung. Akhirnya, ketika harga jual TBS turun drastis pada tahun 2000an, uang hasil tabungan itu, bisa digunakan untuk membeli lahan kebun sawit yang tidak terlalu jauh letaknya dari tempat tinggal mereka. Dengan cara itulah, maka keluarganya bisa memiliki kebun sawit diluar lahan plasma mereka seluas 10 hektar.
Kendati hanya bisa menyelesaikan pendidikan hingga tamat Sekolah Menengah Kejuruan, namun bagi Suhar, kehidupannya lumayan berkecukupan. Dirinya, sebagai anak sulung, lebih memilih membantu penuh kedua orangtuanya dalam mengelola kebun sawit yang dimiliki keluarga.
