Layaknya di Sawit, Wilmar Padi pun Perkuat Kemitraan Dengan Petani

oleh -9.646 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) terus berkomitmen menjalin kemitraan dengan petani padi melalui Farmer Engagement Program (FEP).

InfoSAWIT, JAKARTA – Setelah sukses membangun industri kelapa sawit nasional, Wilmar pun mulai merambah sektor pangan, utamanya pertanian padi. Dalam membangun sektor pangan, padi, Wilmar juga menerapkan kemitraan dengan petani, layaknya di kelapa sawit.

Diungkapkan Rice Business Head PT Wilmar Padi Indonesia, Saronto Soebagio, alasan Wilmar masuk ke sektor pangan lantaran petani disektor tersebut masih dianggap belum sejahtera, dan sektor ini kurang menarik bagi kalangan anak muda milenial. “Tidak ada anak muda yang minat menjadi petani, rata-rata umur petani padi telah mencapai 55 tahun,” katanya  saat buka puasa bersama media dihadiri InfoSAWIT, Jumat (22/3/2024).

Lantas lahan pertanian padi kian tergerus, kata Saronto, bila tidak ada anak muda yang mau menjadi petani padi maka 5 hingga 6 tahun kedepan Indonesia akan menjadi net importer beras. “Kita ingin mensejahterakan petani, dan mendorong pendapatan petani mendekati UMR,” katanya.

BACA JUGA: Kemenko Polhukam Pimpin Koordinasi Penegakan Aturan Pengelolaan Perkebunan Sawit di Riau

Tidak hanya itu PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) terus berkomitmen menjalin kemitraan dengan petani padi melalui Farmer Engagement Program (FEP). Hingga Februari 2024, luas lahan kemitraan dengan petani mencapai 20 ribu hektare (ha), tersebar di 19 kabupaten di Jawa Timur, Banten, Lampung, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.

Peningkatan luas lahan kemitraan dengan petani tersebut bertambah signifikan dari 2023 yang hanya 8.903 ha. Hingga Februari lalu, perusahaan telah menggandeng  16.928 petani. Program tersebut telah dimulai pada 2021 dan lahan yang dikerjasamakan saat itu baru 617 ha. “Program tersebut dapat berjalan dengan baik juga karena dukungan dari pemerintah daerah, dinas pertanian, perusahaan agri input dan gabungan kelompok tani (Gapoktan),” kata Saronto.

Dalam program itu, petani mendapatkan tiga fasilitas. Pertama berupa agri input, yaitu asuransi pertanian serta sarana dan prasarana produksi pertanian. WPI bekerjasama  pemerintah daerah yang memberikan subsidi untuk petani. Selain itu, perusahaan juga menggandeng perusahaan asuransi milik pemerintah dan swasta. Kedua, penerapan good agriculture practices (GAP). Berdasarkan pengalaman di lapangan, peningkatan produksi gabah petani rata-rata sebesar 15 persen setelah mendapat pendampingan.

BACA JUGA: Koalisi Private Sektor Dukung Kebijakan Siak Hijau Dalam Penerapan Praktik Sawit Berkelanjutan

Menurut Saronto, pihaknya berharap kemitraan dalam FEP dapat meningkat menjadi 30 ribu ha hingga akhir tahun ini. Hal itu diharapkan dapat sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan produksi gabah dalam negeri. “Kami berupaya mengikuti arahan pemerintah untuk ikut meningkatkan ketahanan pangan,” kata Saronto.

Dia menambahkan, WPI juga memanfaatkan produk samping (by product) menjadi produk hilir yang dapat memberikan nilai tambah, seperti, bekatul, kulit, menir dan sekam. Produk samping tersebut dapat dimanfaatkan tepung beras hingga bahan bakar pengganti batu bara karena nilai kalorinya tinggi. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com