InfoSAWIT, JAKARTA – Luasan perkebunan sawit Indonesia yang sudah dikuasai investor asing memang simpang siur. Angka paling optimistis menyebut seluas 3 juta ha. Ada pula yang menyebut 2 juta ha. Tahun 2006, investasi Malaysia di perkebunan sawit Indonesia ditengarai sudah mencapai Rp 3,2 triliun, dengan penguasaan lahan 800.000 ha, atau 14,5% dari total luas perkebunan sawit nasional kala itu.
Malaysia bukan satu-satunya, menjadi pemodal asing yang mengadu peruntungan di bisnis sawit Indonesia datang dari banyak negara, seperti Singapura, Inggris, Belgia, Amerika Serikat, Kuwait, Thailand, bahkan Myanmar.
Hanya saja, investor Malaysia yang paling dominan. Gelombang investasi Malaysia ke perkebunan sawit Indonesia sudah berlangsung sejak 1990-an.
BACA JUGA: Memungut Berondolan Sawit Lebih Efisien Saat Gunakan APB
Hampir semua korporasi besar sawit masuk, seperti Sime Darby (gabungan Golden Hope Plantations dan Kumpulan Guthrie), IOI, Agro Hope, dan KLK Kepong. Ada pula mereka yang berbendera perusahaan investasi, salah satunya Pinehill Ventures Limited.
Bahkan, pengelola keuangan seperti Khazanah dan Tabung Haji (TH) turut merambah bisnis sawit di negeri ini Sime Darby, pemain utama CPOyang memproduksi 2,4 juta ton atau 6% dari total produksi tahunan dunia dengan lahan produktif 522.489 ha, boleh dibilang sebagai “perintis” ekspansi ke RI.
Sime Darby melalui PT Minamas Plantations (dikukuhkan pada 2001) kini beroperasi di 8 provinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dengan menguasai total lahan 299.263 ha, tapi baru 68% (204.845 ha) yang ditanami sawit beragam usia. Makanya Indonesia punya posisi penting bagi Sime Darby.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 0,77 Persen pada Jumat (28/6), Harga CPO Mingguan Naik Tipis
Apa alasan investor sawit Malaysia “menyerbu” Indonesia? Salah satunya, karena cadangan lahan di negara itu sudah menipis. Kalaupun masih tersedia lahan, harganya naik hingga empat kali.
Kualitas tanah di Malaysia juga tidak sebaik Indonesia, karena berupa tanah lempung padat yang menjadi sangat keras seperti batu ketika datang musim kemarau. Berbeda dengan tanah di Indonesia yang subur, dengan ciri-cirinya yang sangat cocok untuk tanaman kelapa sawit, antara lain mengandung banyak lempung, permukaan air tanah cukup dalam, tidak berbatu, solum cukup dalam, dan tingkat keasaman tanah (pH) 4-6. Jenis tanah yang baik untuk kebun sawit juga tersedia di Indonesia, yakni tanah latosol, ultisol, ulvial, tanah gambut saprik, dataran pantai, serta tanah muara sungai.
