InfoSAWIT, PEKANBARU – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) meluncurkan varietas unggul kelapa sawit hasil kultur jaringan, NUSAKlon 1 dan NUSAKlon 2, yang diklaim mampu menghasilkan produktivitas crude palm oil (CPO) hingga 12 ton per hektare per tahun. Peluncuran ini dilakukan di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, dan diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas tanpa perlu ekspansi lahan baru.
Varietas NUSAKlon 1 dan NUSAKlon 2 merupakan hasil riset intensif yang dilakukan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) bekerja sama dengan PTPN IV PalmCo. Produktivitas varietas ini diklaim 30 hingga 40 persen lebih tinggi dibanding varietas kelapa sawit pada umumnya, yang hanya mencapai 7-8 ton per hektare per tahun. Menurut Direktur Utama PTPN III, Mohammad Abdul Ghani, inovasi ini merupakan langkah strategis mendukung visi ketahanan pangan dan energi nasional.
“Produktivitasnya jauh lebih tinggi dengan potensi rendemen CPO yang signifikan. NUSAKlon ini akan menjadi solusi jangka panjang untuk mewujudkan ketahanan energi dan pangan Indonesia,” ujar Abdul Ghani, dikutip InfoSAWIT, Kamis (19/12/2024).
BACA JUGA: Petani Sawit Anggota Koperasi SSB Gugat Realisasi Lahan Kemitraan 1.470 Hektar
Wakil Menteri BUMN RI, Aminuddin Ma’ruf, yang turut hadir dalam peluncuran tersebut, menyatakan optimisme bahwa NUSAKlon akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama CPO global. Selain produktivitas tinggi, varietas ini juga memiliki keunggulan lain seperti pertumbuhan vegetatif seragam, kandungan minyak berkualitas tinggi, dan potensi rendemen yang lebih baik.
“Dengan potensi produktivitas mencapai 12 ton per hektare, NUSAKlon dapat mempercepat pencapaian kemandirian pangan dan energi dalam waktu singkat,” kata Aminuddin.
NUSAKlon mulai dikembangkan pada 2009 di Laboratorium Kultur Jaringan PPKS Marihat dan diuji lapangan sejak 2016 di Kebun Benih Kelapa Sawit Adolina milik PTPN IV. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, mengungkapkan apresiasinya kepada para peneliti yang telah bekerja selama 18 tahun untuk menghasilkan varietas ini.
“Varietas ini bahkan memiliki pelepah yang lebih pendek, sehingga memungkinkan peningkatan jumlah tanaman per hektare. Dengan NUSAKlon, program B-100 bukan lagi sekadar mimpi,” tambah Jatmiko.
Ke depan, varietas ini akan menjadi bagian dari program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang diinisiasi PTPN IV PalmCo. Program ini bertujuan memperkuat produktivitas petani sawit melalui kemitraan strategis.
Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Iman Yani Harahap, menyebut keberhasilan peluncuran NUSAKlon sebagai jawaban atas perjuangan para peneliti untuk mendukung ketahanan pangan dan energi. Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Dr. Winarna, juga menegaskan bahwa teknologi kultur jaringan somatic embryogenesis (SE) yang digunakan telah membawa terobosan besar dalam produktivitas sawit nasional.
BACA JUGA: Mendag Lepas Ekspor 10 Kontainer Produk Oleokimia Senilai Rp6,75 Miliar ke India
“Varietas ini menghasilkan 11-12 ton CPO per hektare per tahun. Kami optimis, NUSAKlon akan menjadi solusi utama peningkatan produktivitas kelapa sawit nasional,” pungkas Winarna.
Peluncuran NUSAKlon menunjukkan potensi besar bagi Indonesia untuk mempertahankan dominasi dalam industri CPO global, sekaligus mendukung percepatan ketahanan pangan dan energi nasional. (T2)
