Meski ada wacana minyak mikroba, algae atau alternatif lain, Meijaard menyatakan bahwa solusi tersebut masih dalam tahap uji coba. “Sawit harus tetap menjadi bagian dari solusi global, asal dikelola dengan benar,” tegasnya.
Di luar laporan, Meijaard mengkritik keputusan AS menarik diri dari perjanjian iklim. “Ini langkah buruk. Perubahan iklim adalah masalah global yang butuh kerja sama semua negara,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah dan perusahaan merancang lanskap produksi yang seimbang. “Perlu perencanaan matang untuk memadukan produksi minyak nabati dengan pelestarian ekosistem. Sawit bisa berkontribusi positif jika dikelola dalam lanskap terintegrasi,” pungkasnya.
BACA JUGA: Indonesia Tegaskan Pentingnya Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Dengan pendekatan inklusif dan berbasis ilmu pengetahuan, Meijaard yakin industri minyak nabati bisa memenuhi kebutuhan manusia tanpa mengorbankan masa depan planet. (T2)
