Baginya, kuncinya adalah kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun sistem yang berdaya saing dan berkelanjutan. “Kita harus membalikkan narasi ini. Dunia telah menciptakan masalah, dan kini kita yang menyelesaikannya,” ungkap Tripathi.
Lebih dari sekadar wacana, Tripathi menegaskan bahwa diskusi ini adalah langkah awal menuju perubahan nyata. Dalam enam hingga sembilan bulan ke depan, ia berharap akan ada ratusan juta dolar yang mengalir untuk mendukung gerakan pertanian sawit berkelanjutan berbasis teknologi mutakhir. Jika berhasil, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi contoh utama bagi dunia dalam pengelolaan kelapa sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dengan penuh keyakinan, ia menutup pembicaraan dengan seruan optimis, “Inilah saatnya Indonesia memimpin, bukan hanya mengikuti.” (T2)
