InfoSAWIT, JAKARTA – Disela-sela pertemuan Indonesia Economic Summit 2025, digelar sebuah forum Business Roundtable bertajuk Unlocking Opportunities: Advancing Indonesia’s Leadership in Sustainable Palm Oil, yang diselenggerakan Global Alliance on Sustainable Planet (GASP) bersama Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS).
Dalam pertemuan itu Sekretaris Jenderal Global Alliance for a Sustainable Planet (GASP), Satya Tripathi berbicara tentang tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia dalam mencapai perkebunan berkelanjutan. Dengan nada penuh semangat, ia mengajak para pemangku kepentingan untuk mengubah narasi global yang selama ini lebih banyak menekan Indonesia menjadi kisah keberhasilan yang patut dicontoh dunia.
“Indonesia berada di persimpangan jalan,” ujar Tripathi di hadapan peserta diskusi yang juga dihadiri InfoSAWIT, Selasa (18/2/2025). Ia menyinggung ketimpangan dalam penggunaan karbon secara historis. Amerika Serikat telah menggunakan 25% dari total karbon global, sementara Uni Eropa 22%.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Tipis Pada Selasa (18/2), Harga CPO di Bursa Malaysia Melorot
Kini, negara-negara berkembang seperti Indonesia justru harus menanggung beban regulasi yang ketat terkait emisi karbon, sebuah kondisi yang menurutnya menimbulkan kemarahan moral di banyak kalangan.
Namun, lanjutnya, meski ada ketidakadilan dalam pembagian tanggung jawab, realitas geopolitik dan ekonomi global berbicara lain. “Moral itu penting, tapi sistem perdagangan dan ekonomi dunia bekerja dengan cara yang berbeda,” ujarnya.
Indonesia kini bahkan menghadapi berbagai kebijakan dari Uni Eropa, seperti mekanisme penyesuaian perbatasan karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism/CBAM) dan regulasi energi terbarukan (EU RED), yang mempengaruhi sektor kelapa sawit—salah satu komoditas utama negeri ini yang melibatkan lebih dari 18 juta orang.
BACA JUGA: Realisasi Program Peremajaan Sawit Rakyat Masih Jauh dari Target, Ini Kendalanya
Alih-alih terjebak dalam dilema ini, Tripathi melihat peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam praktik berkelanjutan. Ia mengingat kembali pengalamannya saat menangani pemulihan pasca-tsunami di Aceh, yang diakui sebagai salah satu model pemulihan bencana terbaik di dunia. “Jika Indonesia bisa melakukan pemulihan bencana dengan efisien, transparan, dan penuh integritas, mengapa tidak menerapkan pendekatan yang sama dalam industri kelapa sawit berkelanjutan?” tanyanya.
