InfoSAWIT, JAKARTA – Di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris, anggota fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), menyoroti perkembangan program biodiesel berbasis kelapa sawit yang digarap PT Pertamina. Dengan nada kritis, politisi yang akrab disapa Andi ini mempertanyakan kolaborasi antara Pertamina, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan institusi riset seperti IPB serta BRIN.
“Pertamina sudah mengembangkan biodiesel sawit, IPB juga punya banyak riset. Tapi bagaimana implementasi di lapangan? Jangan sampai kita hanya berputar di laporan,” ujarnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XI dengan BPDP, dipantau InfoSAWIT, Senin (17/2/2025).
Andi juga menyentil target peremajaan 120.000 hektar kebun sawit hingga 2025 yang kini tinggal menyisakan sembilan bulan. “Sudah hampir Maret 2025, progresnya seperti apa? Jangan hanya jadi angka di kertas,” tegasnya. Ia mengingatkan proyek serupa di sektor kehutanan yang kerap gagal, “Dulu ada program tanam hutan, eh di lapangan malah tak ada pohonnya. Jangan sampai ini terulang.”
BACA JUGA: Ketika Planter Sawit Bertemu Kopi, Memunculkan Gagasan dari Hati
Subsidi biodiesel juga jadi sorotan. Andi mempertanyakan apakah insentif pemerintah lebih banyak dinikmati korporasi ketimbang petani kecil. “Apa BPDP punya data konkret soal dampak subsidi terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani? Selisih harga biodiesel dan solar terus melebar. Jangan sampai petani tetap miskin, sementara perusahaan untung besar,” sindirnya.
Soal alokasi dana cadangan Rp5 triliun untuk investasi jangka panjang, Andi menekankan pentingnya transparansi. “Harus ada auditor independen yang memastikan dana ini tidak bocor. Jangan sampai uang rakyat jadi ajang korupsi,” tegasnya. Ia juga meminta BPDP mengevaluasi efektivitas anggaran agar kebijakan benar-benar pro petani kecil.
Program pengembangan SDM yang menargetkan 27.000 tenaga terlatih di 2025 dianggapnya ambisius. “Sisa waktu sembilan bulan, bagaimana merekrutnya? Lalu, bagaimana memastikan lulusan dapat kerja, bukan sekadar pegang sertifikat?” tanya Andi. Ia mendorong BPDP menggandeng institusi seperti Pertamina, IPB, dan BRIN agar tak mulai dari nol. “BRIN punya banyak hasil riset biodiesel. Manfaatkan itu!”
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II-Februari 2025 Naik Rp 134,99 per Kg
Andi mengapresiasi langkah BPDP yang telah bekerja sama dengan IPB dan BRIN dalam riset biodiesel. Namun, ia mengingatkan agar sinergi ini tak sekadar formalitas. “Ini bukan soal proyek, tapi keberlanjutan. Pastikan petani kecil merasakan keadilan, negara tidak dirugikan, dan energi hijau kita benar-benar mandiri,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Andi berharap komitmen semua pihak mampu menjawab tantangan biodiesel sawit—dari hulu ke hilir—tanpa meninggalkan petani kecil dalam bayang-bayang korporasi. (T2)
