InfoSAWIT, JAKARTA – Tercatat perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik, proteksionisme perdagangan, dan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa tingkat inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata global, serta surplus perdagangan yang stabil menjadi bukti ketahanan ekonomi nasional.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, pemerintah mengimplementasikan berbagai kebijakan utama, termasuk Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembentukan Danantara dengan aset kelolaan (AUM) senilai Rp900 triliun, serta hilirisasi sumber daya mineral.
Indonesia Economic Summit (IES) 2025 resmi dimulai pada Selasa (18/2/2025) dihadiri InfoSAWIT dengan lebih dari 1.500 peserta dari 48 negara dan lebih dari 100 pembicara, yang terdiri dari eksekutif bisnis, pembuat kebijakan, pemimpin industri, serta pakar global. Forum ini bertujuan untuk membahas strategi percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan peningkatan kesejahteraan bagi 280 juta penduduknya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 1,61 Persen Pada Rabu (19/2), Harga CPO di Bursa Malaysia Naik
Ketua Dewan Pembina Indonesian Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, membuka IES 2025 dengan menegaskan bahwa keberhasilan bangsa dalam mencapai pertumbuhan dan kemakmuran berkelanjutan bergantung pada tiga faktor utama: kebijakan yang tepat, tindakan nyata, serta sinergi antara sektor swasta dan publik.
“Hari ini, dalam KTT ini, kita di sini untuk membicarakan dua hal utama yang akan menentukan masa depan bangsa: pertumbuhan dan kemakmuran. Ini bukan sekadar kata-kata besar, tetapi ujian bagi naik turunnya ekonomi Indonesia di kancah global,” ujar Arsjad Rasjid. Ia berharap IES 2025 dapat menjadi wadah yang mampu mengubah ide menjadi aksi nyata serta menghasilkan dampak yang terukur.
Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. Boediono, turut berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia dari awal 1980-an hingga sebelum krisis keuangan Asia tahun 1997, yang berkisar antara 6% hingga 7%. Ia menekankan pentingnya konsensus kuat di kalangan pembuat kebijakan mengenai pembangunan sebagai proses jangka panjang yang berkelanjutan, serta perlunya menghindari perubahan kebijakan yang merugikan dan zig-zag kebijakan yang tidak produktif.
BACA JUGA: Uni Eropa Pastikan Tetap Menjaga Perdagangan Minyak Sawit Saat EUDR Diterapkan
IES 2025 berlangsung selama dua hari, terdiri dari sesi pleno, diskusi bisnis, serta acara networking. Pada hari pertama, yang berlangsung pada 18 Februari, tema utama yang dibahas mencakup percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, strategi pemberantasan kemiskinan ekstrem, serta upaya menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (T2)
