InfoSAWIT, JAKARTA – Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) kembali akan menggelar ajang Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) untuk ketiga kalinya. Kali ini, acara akan mengusung cakupan yang lebih luas, tidak hanya membahas teknologi pabrik kelapa sawit seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi juga menyoroti perkembangan industri hilir sawit serta sumber daya manusia.
Sekretaris Jenderal P3PI, Hendra Purba, menjelaskan bahwa TPOMI 2025 dirancang sebagai wadah berbagi informasi terkini bagi para pelaku industri sawit, khususnya dalam mengadopsi teknologi terbaru. Ia menekankan, masih banyak pekerjaan rumah bagi praktisi dan pelaku usaha dalam mengikuti kemajuan teknologi, terutama yang berkaitan dengan efisiensi dan keberlanjutan.
“Tahun-tahun sebelumnya, TPOMI fokus pada pabrik sawit dan teknologinya. Tahun ini, kami memperluas pembahasan ke sektor industri hilir yang selama ini belum banyak disentuh. Ini menjadikan TPOMI berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya,” ujar Hendra kepada InfoSAWIT pada Acara Konferensi Pers, TPOMI 2025, Selasa (3/6/2025).
BACA JUGA: India Pangkas Bea Masuk Minyak Nabati Mentah Jadi 10%, Dorong Industri Pemurnian Domestik
Hal senada disampaikan Ketua Bidang Pabrik Kelapa Sawit P3PI, Posma Sinurat. Menurutnya, pengembangan SDM menjadi salah satu isu penting dalam penyelenggaraan kali ini. TPOMI akan menjadi ajang strategis untuk mengedukasi dan memotivasi para pekerja, manajer pabrik, hingga pemilik usaha perkebunan dalam menghadapi tantangan industri.
“Permintaan dari lapangan sangat jelas—mereka ingin forum yang bukan hanya bicara teknologi, tapi juga tentang penguatan SDM dan pemahaman regulasi terkini,” ujar Posma.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa TPOMI akan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, termasuk ahli dari Jepang yang akan mengupas tuntas konsep Total Productive Maintenance yang sudah lama diterapkan secara efektif di sektor industri di Jepang. Pendekatan ini dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional di pabrik kelapa sawit.
BACA JUGA: Menjembatani Sawit dan Diplomasi, Pertemuan Strategis PT Agrinas dan Wamenlu Havas
Selain itu, TPOMI 2025 juga akan membahas aspek strategis lainnya seperti pengolahan limbah, pemanfaatan energi terbarukan, digitalisasi proses produksi, serta tren global seperti perdagangan karbon (carbon trading) yang mulai memengaruhi praktik industri kelapa sawit di berbagai negara.
“Kita ingin TPOMI jadi ajang yang praktis, strategis, dan aplikatif. Tidak hanya teori, tapi juga berbagi praktik terbaik dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah menerapkan transformasi teknologi dan tata kelola berkelanjutan,” kata Posma.
Acara ini, lanjutnya, juga menjadi ajang konsolidasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga sertifikasi, terutama dalam mendukung penguatan regulasi dan peningkatan daya saing industri sawit Indonesia di pasar global.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Didorong Hitung Karbon, FORTASBI Gelar Pelatihan di Pekanbaru
TPOMI 2025 direncanakan akan berlangsung di Bandung, dan akan menjadi ajang temu strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan di sektor sawit, mulai dari pelaku industri, praktisi, akademisi, hingga pembuat kebijakan.
“Tujuan utama kami adalah menghadirkan forum yang memberikan dampak langsung bagi peserta—baik dari sisi pengetahuan, jaringan kerja, maupun pemahaman tentang arah masa depan industri sawit yang lebih berkelanjutan,” tutup Hendra. (T2)
