Ia menekankan pentingnya memiliki tenaga kerja yang memiliki standar kompetensi dalam pengoperasian alat, terutama dalam perhitungan dan kalibrasi mesin pengolahan. Jika tidak, pengoperasian mesin cenderung dilakukan berdasarkan kebiasaan atau intuisi semata, bukan berdasar prosedur teknis yang tepat.
“Kadang pekerja hanya menjalankan mesin berdasarkan feeling atau kebiasaan saja. Padahal harusnya sesuai standar operasional. Itu bisa menyebabkan hasil olahan tidak optimal,” jelasnya.
Tidak Lebih Buruk dari Malaysia, Tapi Banyak PR
Menjawab perbandingan dengan Malaysia, Posma menyebut bahwa tingkat losses di pabrik kelapa sawit Indonesia sebenarnya tidak lebih tinggi secara umum. Namun demikian, ia mengungkapkan bahwa tantangan di dalam negeri masih cukup besar, terutama dalam hal tata kelola dan manajemen pabrik di daerah.
BACA JUGA: TPOMI 2025 Bakal Kembali Digelar, Bakal Bahas Teknologi Pabrik hingga Industri Hilir Sawit
“Malaysia tidak lebih tinggi [tingkat losses-nya], tapi kita di Indonesia punya banyak ruang untuk perbaikan. Masih banyak pabrik di desa atau kawasan terpencil yang manajemennya belum optimal. Informasi soal perawatan mesin dan pelatihan SDM juga belum menyebar merata,” katanya.
Ia berharap ke depan ada perhatian lebih besar untuk mengedukasi para pengusaha kecil dan operator pabrik mengenai pentingnya efisiensi mesin dan pelatihan tenaga kerja. Posma optimistis jika kedua faktor tersebut diperbaiki, maka produktivitas industri sawit Indonesia bisa meningkat signifikan.
“Banyak pengusaha sudah tahu solusinya. Mereka hanya butuh akses informasi dan dukungan pelatihan agar bisa meningkatkan kualitas pabriknya. Ini peluang besar untuk meningkatkan produktivitas secara nasional,” pungkasnya. (T2)
