InfoSAWIT, KETAPANG – Di balik hamparan hijau kebun sawit swadaya di Ketapang, cerita tentang perubahan mulai tumbuh, seperti yang dilakukan PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA), melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), memulai gerakan sunyi namun berdampak besar dengan program Klinik Berdaya Sawit.
Berlangsung dari 26 Mei hingga 7 Juni 2025, program ini bukan sekadar pelatihan teknis pertanian. Ia adalah ruang dialog antara para petani swadaya dengan para praktisi perusahaan, yang berbagi ilmu soal pemeliharaan tanaman, teknik pemupukan, hingga manajemen panen yang efisien. Lebih dari 170 petani dari empat kecamatan—Tumbang Titi, Nanga Tayap, Kendawangan, dan Marau—mengikuti sesi ini dengan antusias.
“Kami tak ingin hanya menjadi tetangga yang baik. Kami ingin tumbuh bersama,” kata CSR Department Head PT BGA, Rizki Munadhil dalam keterangannya diperoleh InfoSAWIT, Selasa (10/6/2025). “Klinik ini adalah jembatan antara praktik lokal petani dengan teknologi dan pengalaman kami,” lanjut Rizki.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 11-17 Juni 2025 Turun Rp115,30 per kg
BGA memang memiliki posisi unik di Ketapang. Sebagian besar wilayah operasionalnya berbatasan langsung dengan kebun rakyat. Relasi ini tak hanya menciptakan keterikatan ekonomi, tapi juga tanggung jawab sosial. Dengan menggandeng para petani sebagai mitra strategis, BGA berharap dapat memperkuat basis ekonomi lokal melalui peningkatan kapasitas teknis petani.
Salah satu peserta pelatihan, Rudi, petani sawit asal Nanga Tayap, mengaku baru pertama kali mengikuti pelatihan intensif seperti ini. “Selama ini kami belajar dari pengalaman atau dari tetangga. Tapi sekarang, kami tahu bagaimana cara pupuk yang tepat, mengatur panen agar tidak rugi, dan bagaimana menghadapi hama dengan cara yang benar,” ujarnya.
Antusiasme tak hanya datang dari petani. Pemerintah desa dan aparat kecamatan pun turut hadir dan menyampaikan apresiasi. Mereka menilai kehadiran Klinik Berdaya Sawit memperkuat sinergi antara swasta, masyarakat, dan pemerintah dalam mendorong ketahanan ekonomi desa.
BACA JUGA: SMAR Garap Bio-CNG dari Limbah Sawit, Siap Tembus Pasar Energi Bersih Eropa
Namun BGA tak berhenti di pelatihan. Klinik ini dirancang sebagai pintu masuk menuju program pendampingan yang lebih menyeluruh. Petani yang berpartisipasi akan dibantu menyusun Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB)—dokumen penting dalam pengakuan legalitas usaha perkebunan mereka. Selain itu, BGA memfasilitasi akses ke pendanaan sarana produksi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan mendorong proses sertifikasi kebun rakyat.
