Langkah ini menjadi signifikan di tengah meningkatnya kebutuhan akan praktik pertanian berkelanjutan. Petani swadaya selama ini kerap tertinggal dalam akses terhadap teknologi, pembiayaan, dan legalitas lahan. Melalui Klinik Berdaya Sawit, jurang ketimpangan itu mulai diisi dengan keberpihakan berbasis pengetahuan.
“Kami melihat banyak potensi besar dari petani lokal. Tapi potensi saja tidak cukup. Mereka butuh akses, dukungan, dan arah,” ujar Rizki. “Dan kami ingin menjadi bagian dari perjalanan itu.”
Klinik Berdaya Sawit pun diproyeksikan menjadi agenda rutin tahunan. Dengan dukungan berkelanjutan, BGA ingin menjangkau lebih banyak wilayah dan menciptakan ekosistem kemitraan yang inklusif dan kompetitif di sektor perkebunan. (T2)
