Jadi Planter Sawit Ekspatriat di Afrika Perlu Mental Tangguh dan Jiwa Adaptif

oleh -20.405 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi pekerja sawit di Afrika

InfoSAWIT, JAKARTA  – Bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit di benua Afrika bukan sekadar soal teknis budidaya, tetapi juga ujian mental, budaya, dan daya tahan. Hal ini diungkapkan oleh Perdata Tarigan, Plantation Manager di Okomu PLC Nigeria yang merupakan bagian dari Socfin Group, saat membagikan pengalamannya sebagai planter ekspatriat.

Menurut Perdata, karakter yang kuat adalah kunci utama untuk bertahan dan sukses sebagai ekspatriat. “Kemampuan adaptasi, sikap suportif, dan apresiatif sangat penting. Tidak cukup hanya menguasai agronomi, tetapi juga harus bisa membangun hubungan yang sehat dengan tim lokal,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa menjadi ekspatriat di industri perkebunan menuntut sejumlah kualitas esensial: keterampilan komunikasi lintas bahasa, kemampuan membangun dan melatih tim lokal, integritas tinggi, kepemimpinan yang memberi teladan, kecakapan dalam manajemen keuangan dan biaya, serta semangat inovasi.

BACA JUGA: Langkah Strategis GP Ansor, 10 Ribu Ton Minyak Residu Sawit Dilepas dari Lampung

Namun, bekerja di Afrika memiliki tantangan tersendiri. Bahasa menjadi salah satu rintangan utama, dengan bahasa Inggris dan Prancis sebagai bahasa dominan yang belum tentu dikuasai seluruh tenaga kerja lokal. Tak hanya itu, tantangan budaya, mulai dari pola makan hingga norma sosial, juga menjadi penyesuaian penting.

“Risiko kesehatan seperti malaria, demam kuning, hingga HIV masih menjadi kekhawatiran. Selain itu, sistem hukum ketenagakerjaan dan kearifan lokal juga berbeda jauh dibandingkan di Indonesia,” kata Perdata.

Ia menambahkan, persoalan lain yang sering muncul adalah rendahnya kedisiplinan tenaga kerja, kurangnya pengetahuan agronomi di kalangan karyawan lokal, hingga keterbatasan logistik. “Sebagian besar alat dan material harus diimpor, sementara iklim di beberapa daerah bisa sangat ekstrem dengan musim kemarau mencapai 3–5 bulan tanpa hujan,” jelasnya.

BACA JUGA: Menhan Pimpin Peninjauan Udara, Boven Digoel Disiapkan Jadi Lumbung Energi Berbasis Sawit

Meski demikian, menurut Perdata, kerja sebagai ekspatriat tetap menawarkan banyak keuntungan. Selain gaji dan bonus yang kompetitif, ekspatriat biasanya mendapatkan cuti panjang, asuransi kesehatan dan jiwa untuk keluarga, tunjangan pensiun, biaya pendidikan anak, hingga berbagai fasilitas tambahan untuk keluarga.

“Dengan sikap mental yang tepat, para ekspatriat bisa menikmati manfaat luar biasa, baik secara profesional maupun personal,” ujarnya.

Lebih jauh, Perdata meyakini bahwa kontribusi ekspatriat dalam pengembangan industri perkebunan di Afrika sangat strategis. Tidak hanya dalam hal transfer pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam membangun sistem kerja yang lebih efisien dan produktif.

BACA JUGA: Masyarakat Adat Moi Tolak Investasi Sawit Rp24 Triliun di Sorong: “Hutan Adalah Ibu Kami”

“Mereka yang bisa bertahan di Afrika adalah mereka yang tidak hanya cakap di lapangan, tapi juga sabar dalam membina tim dan bijak membaca situasi,” pungkasnya. (T2)

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi April 2025


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com