Pungutan Ekspor Sawit Capai Rp28 Triliun, Momentum Dorong Petani Menuju Sawit Berkelanjutan

oleh -2.644 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Fortasbi/Perkebunan kelapa sawit milik salah satu anggota Fortasbi.

InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia terus mencetak kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Di tengah sorotan isu keberlanjutan dalam perdagangan global, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) mencatatkan kinerja positif pada 2024, dengan total realisasi pungutan ekspor mencapai Rp25,76 triliun—melampaui target awal sebesar Rp25 triliun.

Penerimaan tersebut diperoleh dari pungutan ekspor terhadap crude palm oil (CPO) dan lima produk turunannya yang memiliki volume ekspor tinggi, seperti RBD palm olein (10,4 juta metrik ton), RBD palm oil (5,1 juta metrik ton), cangkang sawit (4,87 juta metrik ton), bungkil inti sawit (4,48 juta metrik ton), serta CPO (2,7 juta metrik ton). Selain pungutan ekspor, BPDP juga membukukan pendapatan dari pengelolaan dana sebesar Rp2,95 triliun—jauh di atas target yang ditetapkan sebesar Rp557 miliar.

Komposisi penempatan dana pada 2024 didominasi oleh deposito sebesar 84,22%, sedangkan sisanya ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 15,78%. Dana inilah yang menjadi sumber pembiayaan untuk berbagai program strategis bagi pengembangan sektor sawit nasional.

BACA JUGA: Bupati Kasmarni Tegaskan, Perusahaan Sawit Jangan Hanya Untung, Tapi Harus Peduli Daerah

Pada 2025, pemerintah menaikkan tarif pungutan ekspor CPO dari 7,5% menjadi 10%, sebagaimana diatur dalam peraturan yang ditandatangani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan berlaku sejak 17 Mei 2025. Kenaikan tarif ini diperkirakan akan semakin meningkatkan dana kelolaan BPDP untuk mendukung program-program penguatan industri sawit, khususnya di tingkat petani swadaya.

Namun, di tengah capaian tersebut, tantangan besar masih membayangi petani sawit swadaya—stakeholder utama dalam rantai pasok global. Mereka masih bergulat dengan produktivitas lahan yang rendah, akses terbatas terhadap pembiayaan dan pelatihan, serta minimnya pendampingan menuju praktik perkebunan berkelanjutan.

“Peningkatan pungutan ekspor harus menjadi jalan menuju sawit berkelanjutan,” ungkap salah satu pengurus Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) dilansir InfoSAWIT, Selasa (17/6/2025) . Ia menambahkan bahwa dana yang besar di BPDP semestinya dimanfaatkan untuk memperluas akses petani terhadap program peremajaan, bantuan sarana prasarana, sertifikasi, pelatihan, hingga program hilirisasi yang memberi nilai tambah.

BACA JUGA: 5 Kelompok Tani di Dumai Dapat PSR, 6 Poktan Lain Terima Bantuan Sarpras dari BPDP

Menurut informasi dari FORTASBI, sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bukan sekadar label, tetapi syarat mutlak agar sawit Indonesia diterima pasar internasional. Untuk itu, dukungan kepada petani harus konkret dan berkelanjutan.

Kini, dengan posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia, tantangan global seharusnya dijawab dengan memperkuat akar—yaitu petani. Apalagi dana pungutan yang dikumpulkan sudah menunjukkan kemampuan negara dalam menjaga ekosistem industri ini. Pertanyaannya kini, seberapa besar dana tersebut dapat mengubah nasib petani menjadi aktor utama dalam rantai pasok sawit yang adil, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi. (T2)

 

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com