InfoSAWIT, JAKARTA – Pagi itu Senin (14/7/2025) di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, terasa berbeda dari biasanya. Udara seperti menahan napas. Tak hanya membawa embun, tapi juga kabar duka yang menyusup perlahan ke dunia perkebunan Indonesia — Dr. Ir. Wawan Hardiwinata, M.Si., CSD-ISPO, telah tiada.
Ia menghembuskan napas terakhirnya di kediaman yang sederhana namun penuh makna. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang berpikir, menulis, dan merenung — di mana tumpukan dokumen kebijakan sawit, buku etika pembangunan, dan lembaran riset tentang petani kecil memenuhi rak-raknya. Di sisinya, sang istri, Maranthina Nurshanty, mendampingi dalam keheningan yang syahdu. Putra semata wayangnya, Rafdi, tengah menimba ilmu dan bekerja di Jerman, melanjutkan jejak sang ayah, berpikir untuk Indonesia yang lebih adil dan berkelanjutan.
Wawan Hardiwinata bukan nama asing di dunia tata kelola kelapa sawit Indonesia. Tapi ia juga bukan sekadar birokrat teknis. Ia adalah penyambung nalar dan nurani, menjembatani ruang antara para pembuat kebijakan dan suara petani plasma yang kerap tak terdengar. Di setiap forum, tulisan, dan ruang diskusi, ia mengusung satu keyakinan: sawit Indonesia harus maju tanpa mengorbankan keadilan dan kelestarian.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Juli 2025 Turun Rp89,74 per Kg
“Keberlanjutan bukan cuma soal sertifikasi, tapi tentang keadilan bagi semua yang hidup dari sawit — dari petani kecil sampai generasi masa depan,” begitu kata Wawan dalam sebuah wawancara bersama InfoSAWIT.
Dalam kenangan sahabat-sahabatnya, Wawan adalah sosok yang tenang tapi kukuh. Dalam sebuah forum perkebunan tahun lalu, seorang kolega menggambarkannya,
“Pak Wawan itu seperti pohon sawit tua — akarnya menjalar kuat ke dalam tanah, tak terlihat, tapi buahnya selalu hadir dan berguna untuk banyak orang.”
BACA JUGA: Ketika Sektor Sawit Dihantui Ketidakpastian Berusaha
Ia tak segan menyuarakan apa yang tak populer. Tentang betapa pentingnya legalitas lahan untuk petani plasma, tentang pola kemitraan yang aman dan adil, hingga peran perbankan dan asuransi dalam menopang program peremajaan sawit rakyat (PSR).
“Program PSR ini bukan hanya soal menanam ulang. Ini soal mempersiapkan masa depan. Maka kita perlu dukungan perbankan sebagai pendamping sampai tanaman menghasilkan, juga asuransi sebagai perlindungan harga saat TBS jatuh,” ungkapnya dalam satu kesempatan.
Kini, ketika suaranya telah tiada, warisannya tetap hidup. Ia meninggalkan lebih dari sekadar tulisan dan gagasan — ia meninggalkan jalan pikir yang jernih dan keberanian untuk berkata benar di tengah bisingnya kepentingan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 16-22 Juli 2025 Naik Rp68,89 per Kg
Dalam buku catatan tua di sudut ruang kerjanya, barangkali tertulis satu prinsip yang selalu ia pegang, bahwa kehormatan sebuah bangsa tercermin dari cara ia memperlakukan tanahnya, manusianya, dan generasi penerusnya.
Hari ini, sektor sawit kehilangan salah satu penjaganya. Namun suara Wawan tak akan pernah benar-benar hilang. Ia telah menjadi bagian dari akar bangsa ini — mengalir, menguatkan, dan akan terus tumbuh. Selamat jalan, Pak Wawan.
Suara Anda tak akan pernah benar-benar hilang. Ia telah menjadi bagian dari akar bangsa ini., mengalir, menguatkan, dan akan terus tumbuh. (T1)
