InfoSAWIT, MEDAN — Komitmen memperkuat pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan terus digalakkan. Salah satunya melalui pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang digelar di Medan sebagai bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (PSDM-PKS) tahun 2025.
Program yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini dilaksanakan oleh PT. Koompasia Enviro Institute (KEI), bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Pelatihan menyasar pekebun dan pendamping dari Kabupaten Batubara serta Labuhanbatu Selatan—dua wilayah dengan potensi besar dalam produksi sawit rakyat di Sumatera Utara.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel AIHO Medan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara, M. Zakir Syarif Daulay. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa penguatan kapasitas petani sawit swadaya menjadi kunci peningkatan kesejahteraan tanpa mengorbankan aspek lingkungan.
BACA JUGA:: BPDP Bersama Ditjenbun Kembali Gelar Pelatihan ISPO Komprehensif di Sumatera Utara
“Kelapa sawit rakyat harus dikelola secara profesional dan berkelanjutan agar kualitas serta kuantitas produksinya mampu bersaing, sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (24/7/2025).
Pernyataan tersebut diamini oleh Susilistiawati Ritonga, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batubara. Ia menyebutkan bahwa pelatihan semacam ini adalah bentuk investasi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing sawit rakyat di pasar domestik maupun internasional.
Pelatihan dirancang dalam lima kelas intensif dan difasilitasi oleh tim profesional dari PT. KEI. Direktur KEI, Henry Marpaung, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan menggabungkan teori dan praktik lapangan secara seimbang.
“Materi pelatihan mencakup prinsip dan kriteria ISPO, legalitas lahan, manajemen produksi, pengelolaan lingkungan, hingga prosedur sertifikasi. Semuanya disampaikan dengan metode interaktif agar mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan oleh peserta,” papar Henry.
Lebih dari sekadar sesi belajar, pelatihan ini menjadi ruang tumbuh bagi pekebun sawit swadaya. Selain dibekali pemahaman teknis, para peserta juga diberi kesempatan untuk berbagi tantangan yang dihadapi di lapangan dan mendiskusikan solusinya secara kolektif.
Kegiatan ini mencerminkan harapan besar: agar petani sawit swadaya tak lagi diposisikan sebagai pelaku kecil di rantai industri, tetapi mampu naik kelas—menjadi pelaku utama yang mandiri, kompetitif, dan berwawasan lingkungan. Pelatihan ISPO bukan hanya langkah teknis, tetapi juga simbol transformasi sektor sawit rakyat menuju keberlanjutan sejati. (T2)
