InfoSAWIT, JAKARTA – Upaya mereduksi emisi karbon rupanya dilakukan sektor kelapa sawit di dunia, contohnya negara produsen sawit seperti Kolombia pun memiliki strategi guna memangkas emisi Gas Rumah Kaca. Langkah ini menjadi bukti bahwa sektor kelapa sawit tidak menutup mata pada isu yang berdampak pada perubahan iklim
Kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq) telah membuktikan dirinya sebagai salah satu sumber minyak nabati paling efisien, baik dalam hal kualitas per satuan luas maupun keseragaman produksi. Pemanfaatannya yang beragam memenuhi berbagai kebutuhan manusia, menjadikannya sumber daya yang tak tergantikan dalam industri modern.
Minyak sawit umumnya diolah menjadi minyak sawit mentah (CPO), yang digunakan dalam produk pangan seperti minyak goreng dan margarin. Selain itu, minyak sawit juga memiliki peran penting dalam produk non-pangan, termasuk bahan kimia untuk lilin, sabun, kosmetik, dan bahan bakar diesel. Produk sampingan dari kelapa sawit, seperti serat dari buahnya, dapat diolah menjadi bahan seperti papan, pulp, sumber energi, dan pakan ternak.
Permintaan global minyak sawit terus meningkat. Dari tahun 2015 hingga 2022, konsumsi global meningkat rata-rata 3,68%, dengan sedikit penurunan pada tahun 2021-2022 akibat penguncian yang disebabkan oleh pandemi. Namun, konsumsi meningkat pesat pada tahun 2023 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6,92%.
Namun, industri minyak sawit juga menghadapi tantangan lingkungan, salah satunya mengenai tudingan sawit menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Sebab itu negara produsen minya sawit pun mulai melakukan langkah strategi guna mematahkan isu tersebut dengan upaya mereduksi emisi karbon pada operasi perkebunan kelapa sawit mereka.
Sementara dalam dunia perdagangan global, guna menelusuri jejak sebuah komoditas dari hulu hingga hilir masih mejadi tantangan besar. Charlotte Sedlock dari University of Michigan, Amerika Serikat, mengungkapkan dinamika ini hingga rantai pasok dalam Konferensi Internasional Minyak Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2025.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 13–19 Agustus 2025 Naik Rp 22,79 per Kg
Menurutnya, transparansi dalam rantai pasok bukan hanya soal kebijakan formal, tetapi juga dipengaruhi oleh transaksi informal yang sering kali sulit dilacak.
“Lebih banyak yang bisa dilakukan, tidak selalu melalui tindakan formal, tetapi juga secara informal, tergantung pada jenis komoditasnya,” ujar Sedlock saat menjadi salah satu pembicara pada konferensi tersebut dihadiri InfoSAWIT, di Bali.
Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengumpulkan data dari transaksi yang tidak selalu terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, memahami siapa yang terlibat dalam rantai pasok menjadi lebih kompleks. (T2)
