Dasbor Nasional Dituntut Jadi Pintu Ekspor Komoditas Berkelanjutan Indonesia

oleh -4.048 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. SawitFest 2021/foto: Fitra Yogi/Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Munculnya regulasi bebas deforestasi Uni Eropa atau tren dikenal EUDR, menuntut sejumlah negara produsen komoditas membangun sistem informasi yang transparan. Bagi pemerintah Indonesia, Dasbor Nasional menjadi pilihan, dalam memenuhi tuntutan tersebut

Pada sebuah acara diskusi di Jakarta, Diah Y. Suradiredja dari Tim Nasional Dasbor Informasi dan Data Komoditi Berkelanjutan membuka pembicaraan dengan napas panjang. Ia mengingatkan hadirin bahwa upaya Indonesia membangun sistem data komoditas nasional bukanlah langkah reaktif terhadap regulasi Uni Eropa seperti EUDR, melainkan perjalanan panjang yang sudah dimulai sejak 2019, bahkan sebelum istilah Green Deal menggema di panggung internasional.

“Ini bukan hanya untuk EUDR,” ujar Diah. “Kita bicara tentang semua regulasi global yang sekarang menuntut ketelusuran dan keberlanjutan dari komoditas yang kita ekspor ke dunia.”

BACA JUGA: Satgas PKH Kuasai Kembali 3,3 Juta Hektare Hutan Negara dari Sawit dan Tambang Ilegal

Indonesia, katanya, telah merasakan urgensi itu sejak lama. Dari diskusi-diskusi lintas kementerian di bawah Kemenko Perekonomian, lahirlah tekad untuk membangun satu sistem terpadu—satu ekosistem data nasional—yang bisa menjamin bahwa setiap komoditas ekspor Indonesia dapat dipertanggungjawabkan asal-usulnya, legalitasnya, hingga status keberlanjutannya.

Tantangannya? Tidak sedikit. “Data kita tersebar, tidak sinkron, struktur pencatatan berbeda-beda. Bahkan antara BPS dan pencatatan di lapangan bisa berbeda jauh,” terang Diah saat menjadi pembicara pada acara diskusi yang dihadiri InfoSAWIT, akhir Maret 2025 lalu. Ia pula menyebutkan bahwa banyak organisasi seperti World Resources Institute (WRI) dan World Wildlife Fund (WWF) pun menggunakan pendekatan data yang sangat beragam di tingkat akar rumput. Biaya pencatatan, minimnya koordinasi, hingga belum terintegrasinya sistem antar kementerian menjadi penghalang besar.

Namun, dari tantangan itulah solusi lahir. Indonesia membentuk ekosistem yang disebut Joint Task Force—satu konsorsium nasional tempat semua kementerian menjadi bagian dari delegasi yang menyusun dan membangun Dasbor Nasional Komoditi Berkelanjutan.

BACA JUGA: 114 Tahun Sawit Aceh, Dorong Praktek Ramah Anak

Dasbor ini bukan sekadar kumpulan angka. Ia menyimpan data geolokasi, dokumen legalitas, hingga riwayat transaksi setiap produk ekspor. “Setiap titik koordinat, overlay tutupan hutan, sampai nama petani—semuanya akan muncul di sini,” jelas Diah. Sistem ini bahkan didukung teknologi blockchain untuk memastikan keandalan dan keamanan pertukaran data.

Ke depan, otoritas dan operator dari negara-negara pembeli bisa langsung mengakses data dari Dasbor Nasional. Bukan hanya melihat titik asal komoditas, tapi juga memverifikasi bahwa produk tersebut tidak berasal dari lahan yang mengalami deforestasi ilegal. Dengan sistem ini, pemerintah Indonesia ingin menunjukkan bahwa ia mampu berdiri sejajar di pasar global, dengan transparansi dan integritas.

“Ini bukan hanya soal teknologi,” pungkas Diah. “Ini tentang keberanian kita membangun sistem yang melindungi data kita sendiri, melindungi petani kita, dan menjaga nama baik Indonesia di mata dunia.” (T2)

Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT edisi Juni 2025

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com