InfoSAWIT, JAKARTA – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mengakselerasi transisi menuju energi hijau. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini tengah fokus mendorong pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan baku bioethanol melalui proses ekstraksi glukosa. Upaya strategis ini dinilai tidak hanya memperluas pemanfaatan limbah sawit, tetapi juga sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar energi terbarukan global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, kunci keberhasilan pengembangan teknologi ramah lingkungan ada pada kolaborasi lintas sektor. “Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan sinergi antara pemerintah dan dunia industri. Kami optimistis, kolaborasi merupakan salah satu kunci menghadirkan teknologi yang berkelanjutan,” katanya dalam keterangan resmi diperoleh InfoSAWIT, Rabu (17/9/2205).
Langkah konkret ini diwujudkan melalui kerja sama Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) dengan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Proyek tersebut juga melibatkan PT Rekayasa Industri serta Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai mitra strategis dalam pengembangan teknologi energi terbarukan.
BACA JUGA: Petani Perempuan Sawit Suarakan Kekhawatiran atas Regulasi EUDR di Brussel
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Andi Rizaldi menilai, kolaborasi erat antara lembaga pemerintah, riset, dan industri adalah fondasi penting bagi inovasi hijau. “Kami sangat berkomitmen untuk mendukung pengembangan standardisasi serta layanan jasa industri yang dapat memacu transformasi sektor industri menjadi lebih berdaya saing sekaligus berwawasan lingkungan,” ujarnya.
TKKS Bernilai Tambah Tinggi
Selama ini, TKKS kerap dianggap limbah dengan pemanfaatan terbatas. Namun, melalui fasilitas Pilot Plant Fraksionasi TKKS milik BBSPJIA, limbah sawit tersebut mampu diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, mulai dari bioethanol, glukosa, xylosa, hingga lignin dan turunannya.
Kepala BBSPJIA Yuni Herlina Harahap menjelaskan, pilot plant tersebut menjadi wadah riset sekaligus uji coba teknologi yang dapat mendukung industri dalam memanfaatkan limbah sawit secara lebih optimal. “Proyek percontohan ini diharapkan dapat mendorong pengembangan bioenergi berkelanjutan berbasis sawit, sekaligus membuka peluang riset lanjutan dalam pengembangan biomassa sebagai sumber energi ramah lingkungan,” jelasnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-September 2025 Naik Tipis
Tidak hanya soal energi, inisiatif ini juga beririsan dengan pengembangan ekonomi sirkular. Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, Bob Azam menilai bioethanol dari TKKS bisa menjadi model pemanfaatan limbah industri yang lebih produktif. “Kami tidak hanya melihat bioethanol sebagai alternatif energi, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi sirkular yang mampu mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan nilai tambah industri sawit yang sangat dominan di Indonesia,” terangnya.
