InfoSAWIT, JAKARTA – Buletin Informasi Iklim Perkebunan Komoditas Sawit edisi Oktober 2025 yang diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, kondisi iklim nasional selama September 2025 masih berada dalam fase ENSO Netral dengan indeks sebesar –0,54. Sementara itu, Indeks Dipole Mode (IOD) menunjukkan kondisi negatif, yang menandakan suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia relatif hangat. Suhu laut yang lebih tinggi terutama terpantau di hampir seluruh wilayah, kecuali perairan barat dan utara Aceh yang terbilang normal.
Menurut laporan tersebut, sekitar 61,43% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah selama September 2025. Sementara itu, 28% wilayah lainnya mengalami hujan kategori tinggi hingga sangat tinggi, dan sebagian kecil wilayah tercatat mengalami curah hujan rendah. Dari sisi sifat hujan, 79,64% wilayah Indonesia berada pada kategori Atas Normal (AN), 14,46% Normal (N), dan 5,90% Bawah Normal (BN).
Rekor curah hujan ekstrem harian tertinggi terjadi di Hujan Kapal, Kabupaten Badung, Bali, yang mencapai 390 mm per hari pada 10 September 2025. Adapun kelembapan udara terendah tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, sebesar 42,25% pada 3 September 2025. Dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), periode kering terpanjang mencapai 126 hari di Pos Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
BACA JUGA: Riset BRIN Buka Peluang Baru Tanam Sawit di Lahan Masam
BMKG memproyeksikan bahwa pada periode November 2025 hingga Januari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori menengah hingga tinggi, dengan sifat hujan Normal hingga Atas Normal. Namun demikian, sebagian kecil wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan rendah (<100 mm/bulan) yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, terutama di provinsi sentra sawit seperti Riau.
Selain itu, wilayah Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan diperkirakan akan menghadapi sifat hujan di bawah normal, yang perlu diwaspadai karena dapat menurunkan ketersediaan air bagi tanaman kelapa sawit.
BMKG merekomendasikan agar pelaku usaha dan petani sawit mengantisipasi risiko kekeringan dengan mengatur sistem irigasi secara efisien, serta menghindari praktik pembakaran lahan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan di area perkebunan atau lahan kering.
BACA JUGA: Reorganisasi Kebun Sawit Sitaan: Momentum Menuju Tata Kelola Profesional dan Berkelanjutan
Dengan langkah antisipatif yang tepat, sektor perkebunan sawit diharapkan dapat tetap menjaga produktivitas di tengah dinamika iklim yang berubah-ubah. (T2)
