Teks Kunci
- Peneliti BRIN menekankan pentingnya inovasi untuk mengoptimalkan produktivitas kelapa sawit di lahan kering masam.
- Lahan Kering Masam bisa menjadi sumber daya alternatif untuk pertanian sawit yang berkelanjutan dengan pendekatan berbasis teknologi.
- Pendekatan seperti pemupukan berimbang dan penggunaan bibit unggul dapat meningkatkan hasil panen tanpa merusak ekosistem.
- Inovasi bahan tanam unggul dan kolaborasi lintas sektor penting untuk meningkatkan daya saing industri sawit nasional.
- Meski ada tantangan sosial-ekonomi, penggunaan teknologi dan manajemen yang tepat dapat membantu produksi sawit di lahan masam.
InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah keterbatasan lahan subur akibat alih fungsi lahan dan meningkatnya deforestasi, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan perlunya terobosan baru untuk menjaga produktivitas kelapa sawit nasional. Salah satu solusi yang kini menjadi fokus riset adalah pemanfaatan Lahan Kering Masam (LKM) sebagai sumber daya alternatif yang potensial untuk pengembangan perkebunan sawit berkelanjutan.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menyampaikan bahwa riset sawit harus mendapat dukungan penuh karena peran strategisnya bagi ekonomi Indonesia. “Produktivitas sawit kita masih jauh dari potensi genetiknya. Karena itu, riset dan inovasi berperan penting dalam menciptakan sistem produksi yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam webinar EstCrops_Corner #20 bertajuk “Menggali Potensi dan Inovasi Teknologi Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia”, yang digelar oleh Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP) BRIN, Selasa (21/10).
Puji menjelaskan bahwa Lahan Kering Masam tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Tanah jenis Ultisols, Oxisols, dan Inceptisols mendominasi kawasan tersebut dengan sifat alami yang masam, miskin hara, berstruktur lemah, dan mudah tererosi. Meski menantang, penelitian menunjukkan bahwa lahan ini tetap dapat dioptimalkan melalui pendekatan intensifikasi berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan.
BACA JUGA:Pertanian Tumbuh Pesat: PDB Naik 13,8%, Produksi Beras Tertinggi dalam Sejarah
Pendekatan tersebut mencakup pemupukan berimbang, ameliorasi tanah, konservasi lahan dan air, serta penggunaan bibit unggul. Dengan pengelolaan yang tepat, LKM dapat berubah dari lahan marginal menjadi kawasan pertanian produktif sekaligus ramah lingkungan.
Puji juga menekankan pentingnya penerapan Best Management Practices (BMP), seperti pemupukan 4T (tepat jenis, dosis, waktu, dan tempat), penggunaan pupuk organik dan biochar, serta konservasi tanah dan air. Menurutnya, praktik tersebut terbukti mampu meningkatkan hasil panen tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Namun, tantangan sosial-ekonomi masih menjadi hambatan di lapangan. “Lemahnya kelembagaan petani, rendahnya adopsi teknologi, dan fluktuasi harga TBS masih menjadi kendala utama. Hal ini perlu dijawab dengan kolaborasi riset, dukungan kebijakan, dan pendampingan langsung kepada petani,” jelas Puji dilansir InfoSAWIT dari BRIN, Kamis (23/10/2025).
BACA JUGA: Lonjakan Impor Minyak Nabati India Capai 51%, Didorong Pengiriman Minyak Sawit
Selain itu, ia menegaskan bahwa inovasi bahan tanam unggul menjadi kunci keberhasilan industri sawit nasional. Melalui program pemuliaan, teknik kultur jaringan, dan bioteknologi, Indonesia dapat meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru. “Kualitas bahan tanam menentukan daya saing industri sawit. Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar hasil riset dapat diimplementasikan secara luas,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala PRTP BRIN Setiari Marwanto menyebutkan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional. Namun, masih terdapat kesenjangan antara hasil aktual dan potensi tanaman. “Teknologi perbenihan maju dan pengelolaan tanah presisi adalah dua pilar penting untuk mewujudkan keberlanjutan sawit Indonesia,” ujarnya.
Dalam sesi paparan ilmiah, Suratman, Peneliti Ahli Utama BRIN, menjelaskan karakteristik serta tantangan pengelolaan LKM. Ia menyebut bahwa kelapa sawit memiliki toleransi tinggi terhadap tanah masam dan mampu beradaptasi pada kondisi defisit air jangka pendek berkat sistem perakaran yang dalam dan kuat. “Ini membuktikan bahwa sawit dapat tumbuh optimal di lahan kering masam bila dikelola dengan teknologi tepat guna,” terangnya.
BACA JUGA: Cargill Resmikan Refinery Sawit Baru di Lampung, Olah 3000 Metrik Ton Minyak Sawit Per Hari
Menurut Suratman, keberhasilan pengelolaan LKM bergantung pada pendekatan multifaktor: pemanfaatan pupuk dan biochar, pengapuran, penambahan bahan organik, serta konservasi tanah dan air. “Faktor sosial, ekonomi, dan kelembagaan juga harus diperkuat agar penerapan teknologi di lapangan benar-benar efektif,” katanya. (T2)
