InfoSAWIT, JAKARTA – Kinerja sektor pertanian nasional menunjukkan capaian yang menggembirakan sepanjang satu tahun terakhir. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam konferensi pers Capaian Kinerja Satu Tahun Kementerian Pertanian, menyampaikan bahwa kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor pertanian tumbuh signifikan hingga 13,8%, tertinggi di antara sektor lainnya. Angka tersebut disampaikan juga oleh Kementerian Keuangan dalam rapat kerja bersama DPR RI.
Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) turut mengalami peningkatan hingga 124,36, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh kebijakan penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 per kilogram, yang berimbas positif terhadap kesejahteraan petani dan peningkatan serapan gabah hingga 4,2 juta ton.
“Ini hasil kerja keras yang membanggakan. Petani menikmati harga lebih baik, sementara serapan hasil panen mencapai rekor tertinggi,” ujar Amran dipantau InfoSAWIT, Rabu (22/10/2025).
BACA JUGA: China Ingatkan Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang, Usai Trump Ancam Hentikan Impor Minyak Goreng
Di sisi lain, ekspor produk pertanian juga melonjak 42,19% dibanding tahun 2024, sementara penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian terus meningkat, terutama dari kalangan milenial yang kini mulai tertarik menekuni dunia pertanian modern melalui dukungan alat dan mekanisasi pertanian.
Capaian luar biasa juga terlihat pada produksi beras nasional, yang meningkat dari 30 juta ton pada 2024 menjadi 33,19 juta ton tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi hingga akhir tahun bisa mencapai 34,33 juta ton, naik 4 juta ton—kenaikan tertinggi dalam sejarah Indonesia.
“Lompatan produksi sebesar ini adalah pencapaian luar biasa dan telah diakui oleh lembaga internasional seperti FAO,” tambah Amran.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 22-28 Oktober 2025 Turun Rp 36,3 per Kg
Sejalan dengan peningkatan produksi, pemerintah juga mengeluarkan 18 Instruksi Presiden (Inpres) dan Peraturan Presiden (Perpres) yang mendukung revitalisasi irigasi dan penguatan sistem ketahanan pangan. Produksi jagung pun meningkat signifikan dan diproyeksikan akan membawa Indonesia menuju swasembada pangan dalam 1–2 bulan ke depan, dengan estimasi produksi mencapai 34 juta ton.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Kementan juga melakukan reformasi besar dalam tata kelola pupuk bersubsidi. Amran menegaskan bahwa regulasi kini lebih sederhana, sehingga distribusi pupuk tidak lagi terhambat birokrasi yang panjang. Total volume pupuk yang sudah disalurkan mencapai 9,55 juta ton, sementara temuan pupuk palsu hanya sekitar 2% dari total pasar dan telah ditindaklanjuti oleh aparat hukum.
