InfoSAWIT, JAKARTA — Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Just Coalition for Our Planet (JustCOP) mendesak pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat komitmen penurunan emisi karbon. Mereka menilai arah kebijakan energi nasional justru berpotensi menghambat pencapaian target iklim global.
Dalam diskusi daring yang digelar pada Senin (14/10/2025), Syaharani, Kepala Divisi Iklim dan Dekarbonisasi Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), mengungkapkan bahwa puncak emisi karbon Indonesia yang seharusnya dicapai pada 2030, kini diproyeksikan mundur hingga 2037.
“Puncak emisi sektor energi ditargetkan mundur tujuh tahun dari proyeksi dalam dokumen Long Term Strategy – Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050,” ujar Syaharani dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Rabu (22/10/2025).
BACA JUGA: China Ingatkan Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang, Usai Trump Ancam Hentikan Impor Minyak Goreng
Diskusi tersebut turut dihadiri oleh Tri Purnajaya, Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri, serta Torry Kuswardono, Koordinator Sekretariat Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim.
Target Emisi Melenceng dari Komitmen Awal
Menurut Syaharani, mundurnya target puncak emisi tercermin dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024–2060, yang memprediksi lonjakan produksi listrik dari PLTU hingga mencapai puncaknya pada 2037. Selain itu, Kebijakan Energi Nasional (KEN) juga masih menempatkan energi fosil sebesar 79% dalam bauran energi tahun 2030.
“Target penurunan emisi karbon Indonesia dalam skenario Business as Usual (BAU) 2030 justru menunjukkan kenaikan 148% dibandingkan tingkat emisi tahun 2010,” jelas Syaharani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 22-28 Oktober 2025 Turun Rp 70,86 per Kg
Ia menambahkan bahwa dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) yang disusun pada 2022 belum mencantumkan rencana pensiun dini pembangkit batubara, padahal sektor energi merupakan penyumbang emisi terbesar nasional.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia diperkirakan akan melampaui ambang batas kenaikan suhu global sebesar 1,5°C dari era pra-industri. “Artinya, meskipun target ENDC terpenuhi, emisi nasional tetap tinggi dan berisiko memperparah krisis iklim,” katanya.
