InfoSAWIT, BEIJING — Pemerintah China menegaskan bahwa perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang, menyusul ancaman terbaru dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengatakan Washington dapat menghentikan pembelian minyak goreng asal China.
Pernyataan keras Trump disampaikan melalui platform Truth Social pada Selasa (14/10), menanggapi langkah Beijing yang menghentikan pembelian kedelai dari Amerika Serikat. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai “tindakan bermusuhan secara ekonomi” dan memperingatkan adanya kemungkinan pemutusan hubungan dagang di sektor minyak goreng dan komoditas lainnya.
“Kami sedang mempertimbangkan untuk menghentikan bisnis dengan China yang berkaitan dengan minyak goreng dan elemen perdagangan lainnya, sebagai bentuk pembalasan,” tulis Trump dilansir InfoSAWIT dari India Times, Rabu (22/10/2025).
BACA JUGA: Cargill Resmikan Refinery Sawit Baru di Lampung, Olah 3000 Metrik Ton Minyak Sawit Per Hari
Meski ketegangan antara Washington dan Beijing sempat mereda setelah kedua pemimpin mencapai kesepakatan gencatan dagang awal tahun ini, situasi kembali memanas. China pekan lalu memberlakukan pembatasan baru terhadap ekspor teknologi logam tanah jarang, yang memicu respons keras dari Trump. Ia bahkan mengancam akan menerapkan tarif tambahan sebesar 100% terhadap barang-barang asal China mulai 1 November mendatang.
Menanggapi ancaman itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa sengketa perdagangan tidak menguntungkan siapa pun.
“Kedua pihak sebaiknya menyelesaikan perbedaan melalui konsultasi yang setara, saling menghormati, dan saling menguntungkan,” ujar Lin dalam konferensi pers rutin di Beijing, Rabu (15/10). “Sikap China terhadap isu ekonomi dan perdagangan dengan Amerika Serikat konsisten dan jelas,” tambahnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 22-28 Oktober 2025 Turun Rp 36,3 per Kg
Menurut data Departemen Pertanian AS (USDA), Amerika Serikat merupakan pembeli terbesar minyak goreng bekas dari China tahun lalu, dengan volume mencapai 1,27 juta ton, naik lebih dari 50% dibanding tahun 2023. Jumlah itu mewakili lebih dari 40% ekspor minyak goreng bekas China, yang banyak digunakan untuk biofuel, termasuk biodiesel dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF).
