Di sisi lain, Beijing juga membela kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang yang menuai kritik dari Uni Eropa. Maros Sefcovic, Komisioner Perdagangan UE, sebelumnya menilai kebijakan tersebut tidak beralasan dan meminta adanya tanggapan tegas dari Eropa.
China menegaskan, langkah itu diperlukan untuk melindungi keamanan global dan menegakkan kewajiban internasional terkait non-proliferasi.
“Kebijakan ini diambil untuk menjaga perdamaian dunia, stabilitas regional, serta memenuhi tanggung jawab internasional,” jelas Lin.
China merupakan produsen utama logam tanah jarang dunia, bahan penting dalam pembuatan magnet untuk industri otomotif, elektronik, dan pertahanan.
Ketegangan perdagangan terbaru ini menandai babak baru dalam hubungan ekonomi antara dua kekuatan terbesar dunia, yang masih berupaya mencari keseimbangan antara kepentingan industri dan geopolitik global. (T2)
