Pengarusutamaan Gender Pada Pekebun Sawit Rakyat Menuju Standar Keberlanjutan

oleh -2.865 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. InfoSAWIT / Ilustrasi pekerja di perkebunan kelapa sawit

InfoSAWIT, JAKARTA – Isu gender kini menjadi salah satu elemen kunci dalam standar keberlanjutan industri kelapa sawit, baik dalam skema Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) maupun Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kedua standar tersebut menegaskan bahwa pengarusutamaan gender bukan sekadar pelengkap, tetapi kewajiban yang harus diintegrasikan dalam pengelolaan kebun sawit—baik oleh perusahaan maupun pekebun rakyat. Prinsip penghormatan terhadap kesetaraan gender menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan yang masih lebar. Penelitian Fatchiya, Anna (2022) di Provinsi Lampung mengungkap bahwa pengelolaan perkebunan sawit masih didominasi oleh laki-laki. Perempuan, yang seharusnya memiliki peran strategis, justru lebih sering ditempatkan dalam pekerjaan pemeliharaan seperti pemupukan atau perawatan daun. Beban mereka pun berlipat, sebab selain bekerja di kebun, mayoritas perempuan masih harus menjalankan pekerjaan domestik yang tidak ringan.

Masalah lainnya lebih kompleks, upah perempuan yang lebih rendah, minimnya standar keselamatan kerja, risiko kesehatan, hingga kasus pelecehan seksual, seperti dicatat dalam penelitian Rini Hani dkk (2017). Pada tingkat pekebun rakyat, laporan Asosiasi Petani Sawit Swadaya Indonesia (APSSI) menunjukkan betapa kecilnya partisipasi perempuan. Dari 700 petani dampingan, hanya 42 atau sekitar 6 persen yang terlibat aktif, utamanya pada aktivitas pemupukan, brondolan, dan pengendalian gulma.

BACA JUGA: Sampoerna Agro Berganti Pemilik, Posco Kuasai 65,7% Saham

Ketimpangan yang sama tampak dalam partisipasi pelatihan. Di sekolah lapang Good Agricultural Practices (GAP), peserta perempuan hanya 10 persen (75 dari 750 orang). Padahal, seperti ditegaskan oleh Tengku Indira Larasati (2025), perempuan memegang peran strategis dalam pengembangan industri sawit. Sayangnya, akses terhadap pelatihan dan peran strategis itu dibatasi oleh hambatan struktural, norma sosial, hingga implementasi regulasi yang belum sepenuhnya berpihak pada kesetaraan gender.

Faktor ekonomi turut mempengaruhi. Penelitian Sari, Maya dkk (2023) menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga, lama kerja, dan luas lahan menjadi penentu keterlibatan perempuan dalam pendapatan rumah tangga. Semakin kecil luas lahan, semakin besar keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi keluarga.

Potensi ini seharusnya menjadi peluang besar. Di wilayah dampingan APSSI di Kecamatan Rakit Kulim dan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, peran perempuan bahkan sangat sentral, terutama dalam pengelolaan keuangan keluarga. Namun rendahnya pengetahuan pengelolaan usaha menyebabkan alokasi pendapatan untuk perawatan kebun tidak lebih dari 10 persen—jauh dari ideal. Tak heran produktivitas tanaman pun rendah.

BACA JUGA: Kinerja Membaik, Bumitama Catat Lonjakan Laba dan Produksi

Pendataan APSSI 2023–2024 menunjukkan taksasi rata-rata kebun sawit rakyat hanya sekitar 700 kg/ha/bulan. Angka ini tertinggal dari produktivitas perkebunan besar di Riau yang mencapai 4.361 kg/ha, sementara kebun rakyat rata-rata hanya 3.595 kg/ha (Dinas Perkebunan Provinsi Riau, 2015). Produktivitas yang rendah otomatis berdampak pada pendapatan keluarga petani.

Karena itu, pengarusutamaan gender harus dipandang sebagai investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan kebun sawit rakyat. Dengan memberi ruang lebih besar bagi perempuan—mulai dari akses pelatihan, peran pengambilan keputusan, hingga perlindungan kerja—industri sawit rakyat dapat mengoptimalkan potensi yang selama ini belum tergarap.

Lebih jauh lagi, partisipasi perempuan bukan hanya memperkuat keberlanjutan sosial sesuai standar RSPO dan ISPO, tetapi juga membantu membangun ketahanan ekonomi keluarga petani. Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan menjadi jembatan penting dalam mentransformasikan perkebunan sawit rakyat menuju pilar baru industri sawit nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (*)

Penulis: Muhamad Yazid Fauzi, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam STAI Nurul Falah

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com