AS Perketat Tekanan Dagang, Ekspor Sawit Indonesia Terdesak Manuver Cepat Malaysia

oleh -5.360 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Analis komoditas Bloomberg, Alvin Tai.

InfoSAWIT, NUSA DUA – Ketegangan baru dalam perdagangan minyak nabati mengemuka setelah analis komoditas Bloomberg, Alvin Tai, menyoroti bagaimana dinamika hubungan dagang antara Indonesia, Malaysia, dan Amerika Serikat kini bergerak dalam arah yang menentukan masa depan ekspor minyak sawit Indonesia. Dalam paparannya, Alvin menyebut Malaysia bergerak jauh lebih cepat mengamankan fasilitas perdagangan dengan AS—sementara Indonesia masih sibuk merumuskan posisi dan timbal balik yang diminta Washington.

Menurut Alvin, Malaysia telah lebih dulu menandatangani perjanjian dagang yang memberikan bea masuk 19 persen serta tarif nol untuk sejumlah komoditas utama, termasuk minyak sawit, kakao, dan karet. Keuntungan tarif tersebut langsung membuka akses lebih murah bagi minyak nabati Malaysia masuk ke pasar AS. Namun kesepakatan itu bukan tanpa harga.

“Malaysia perlu membeli semikonduktor, komponen dan peralatan kedirgantaraan, serta pusat data senilai 150 miliar dolar AS selama lima tahun,” jelasnya dalam acara Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Oulook 2026, dihadiri InfoSAWIT, pada pertengahan November 2025. Selain itu, Malaysia juga diwajibkan menyerap batu bara hingga 204 miliar dolar AS dan mengalokasikan 70 miliar dolar AS dalam bentuk investasi dana modal.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode III-November 2025 Turun Rp 35,91 Per Kg

Sementara Malaysia sudah bergerak, Indonesia justru masih berada pada tahap negosiasi awal. Berdasarkan kerangka kerja yang dirilis Gedung Putih pada Juli lalu, Indonesia diminta membeli produk energi bernilai 15 miliar dolar AS per tahun, 4,5 miliar dolar AS produk pertanian, serta pembelian 50 pesawat Boeing.

Tidak berhenti di situ, tuntutan lain dianggap jauh lebih sensitif: Indonesia diminta menghapus hambatan tarif pada 99 persen produk makanan dan pertanian industri AS, serta melonggarkan hambatan non-tarif.

Menurut Alvin, tuntutan penghapusan hambatan non-tarif inilah yang paling menentukan. Tanpa proteksi tersebut, komoditas pertanian AS—terutama jagung—akan masuk lebih bebas ke pasar Indonesia. “Jika jagung AS masuk, disparitas harga akan turun. Dampaknya positif untuk industri unggas, tetapi bisa menekan petani jagung lokal yang selama ini menjual pada harga premium hingga 150 persen dibanding pasar internasional,” ujarnya.

BACA JUGA: Eks Lahan Sawit Bakal di Konversi ke Kedelai, Dorong Pemerintah Genjot Produksi Kedelai

Tekanan terhadap ekspor sawit Indonesia mulai terasa. Pada 2024, Indonesia mengekspor 1,54 juta ton minyak sawit ke AS dengan nilai 1,59 miliar dolar AS. Namun dalam tujuh bulan pertama tahun ini, ekspor Indonesia ke AS justru anjlok 25,8 persen. Sebaliknya, Malaysia memanfaatkan setiap penurunan volume dari Indonesia.

“Setiap pengiriman yang turun dari Indonesia, Malaysia masuk menggantikan,” kata Alvin. Data yang ia tampilkan menunjukkan ekspor sawit Malaysia ke AS pada tujuh bulan pertama tahun ini hampir menyamai nilai ekspor sepanjang 2024—tanda bahwa Malaysia memanfaatkan celah perdagangan dengan sangat agresif.

Padahal, AS sedang menghadapi kekurangan bahan baku minyak nabati untuk kebutuhan biodiesel dan renewable diesel. Kapasitas pengolahan kedelai memang meningkat dan ditargetkan mencapai 2,78 miliar bushel pada 2030, namun produksi minyak kedelai tetap belum mampu mengejar kebutuhan. Total kebutuhan bahan baku sekitar 43 miliar pon, sementara pasokan—termasuk dari Kanada dan Meksiko—baru menyentuh 34,5 miliar pon.

BACA JUGA: Impor Minyak Sawit India Diproyeksi Melonjak 20%, Harga Kompetitif Dorong Permintaan

“Secara logika, ini membuka peluang besar bagi minyak sawit,” ujar Alvin. Tapi peluang itu akan hilang jika Indonesia kehilangan pijakan di pasar AS. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com