Luka yang Menganga di Pino Raya, Ketika Konflik Agraria Berujung Peluru

oleh -2.768 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. Istimewa/Ilustrasi konflik warga terkait lahan sawit.

InfoSAWIT, BENGKULU SELATAN — Pagi itu, Senin 24 November 2025, udara di Pino Raya sebenarnya berjalan seperti biasa. Di ladang-ladang yang membentang, para petani mulai memeriksa tanaman mereka—sebuah rutinitas yang diwariskan turun-temurun. Namun ketenangan itu retak hanya beberapa jam kemudian, ketika suara tembakan memecah siang dan meninggalkan lima petani tergeletak bersimbah darah.

Peristiwa itu bukan sekadar insiden sesaat. Bagi warga Pino Raya, tembakan hari itu adalah puncak dari konflik panjang yang telah menghantui kehidupan mereka sejak 2012—konflik yang terasa tak pernah benar-benar ingin diselesaikan.

 

Ketika Bulldozer Menggeser Harapan

Sekitar pukul 10 pagi, beberapa petani kembali menemukan pemandangan yang sudah terlalu sering mereka lihat, sebuah bulldozer perusahaan PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) meratakan tanaman pertanian mereka. Itu adalah kejadian ketiga hanya dalam satu hari.

BACA JUGA: PPSK Resmi Kantongi Sertifikat RSPO, 1.223 Petani Sawit Ketapang Kini Diakui Berkelanjutan

Bagi warga, setiap pohon yang tumbang bukan sekadar kehilangan lahan—melainkan terhapusnya sumber hidup, kenangan, dan jerih payah.

Dilansir dalam keterangan resmi Walhi dikutip InfoSAWIT, Selasa (25/11/2025), sekitar pukul 10.45 WIB, ketegangan mulai naik. Adu argumen pecah. Tidak ada yang mundur. Dan menjelang tengah hari, situasi memanas bagaikan bara yang akhirnya menyambar.

Tepat pukul 12.45 WIB, kejadian yang ditakutkan itu terjadi.

BACA JUGA: Sengkarut MoU Plasma Sawit, KUB PMPL Laporkan PT PCP ke KPPU

Seorang petugas keamanan perusahaan mengangkat senjata dan menembak seorang petani bernama Buyung tepat di dada. Detik itu juga, kepanikan pecah. Namun alih-alih berhenti, petugas tersebut berlari sambil menembak secara membabi buta ke arah belakang.

Empat petani lainnya ikut roboh—Linsurman dengan luka di lutut, Edi Hermanto tertembak di paha, Santo terkena peluru di bawah ketiak, dan Suhardin tertembak di betis. Suara jeritan menggema di antara kebun yang selama ini menjadi tempat mereka menggantungkan hidup.

Dalam kekacauan itu, warga yang marah mengejar penembak yang disebut bernama Ricky. Ia akhirnya tertangkap, sementara para korban segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun bagi masyarakat Pino Raya, luka itu jauh lebih dari sekadar luka fisik—ia adalah simbol bahwa konflik ini telah menuntut korban manusia.

BACA JUGA: B50, Antara Ambisi Energi dan Realitas Produktivitas

 

Konflik yang Tak Pernah Selesai

Akar dari tragedi ini menuntut kita menoleh ke belakang—ke tahun 2012, ketika SK Bupati Bengkulu Selatan Nomor 503/425 diterbitkan, memberikan izin lokasi seluas 2.950 hektare kepada PT ABS. Sejak saat itu, tapal batas tanah berubah menjadi sumber ketegangan, protes, kriminalisasi, dan kini, tembakan.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com