InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Industri kelapa sawit Malaysia memasuki fase penentuan. Tanpa lagi ruang untuk ekspansi lahan, peningkatan produktivitas kini sepenuhnya bergantung pada pemanfaatan teknologi, mekanisasi, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Hal ini ditegaskan oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB) di tengah tekanan keberlanjutan global yang semakin ketat.
Direktur Jenderal MPOB Ahmad Parveez Ghulam Kadir mengatakan praktik bisnis konvensional sudah tidak relevan. Regulasi keberlanjutan, seperti Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) 2.0 dan European Union Deforestation Regulation (EUDR), secara efektif menutup peluang pembukaan kebun sawit baru.
“Tidak ada lagi ruang untuk membuka lahan. Produktivitas harus datang dari teknologi, mekanisasi, dan penggunaan material tanam yang lebih baik,” ujar Parveez dalam wawancara kelompok di sela International Palm Oil Congress and Exhibition 2025 (PIPOC 2025), dilansir InfoSAWIT dari New Straits Times, Sabtu (3/1/2026).
BACA JUGA: Harga Sawit Turun ke Level Terendah Dua Pekan, Tertekan Pelemahan Minyak Mentah dan Ekspor Malaysia
Ia menjelaskan, industri sawit Malaysia telah lama menghadapi kendala struktural, mulai dari produktivitas yang stagnan, lambatnya peremajaan kebun, dominasi tanaman tua, hingga kekurangan tenaga kerja kronis. Dalam hampir dua dekade terakhir, produktivitas sawit Malaysia cenderung datar, meski produksi crude palm oil (CPO) tahun ini diperkirakan bisa mencapai 19,5 juta ton.
“Pohon sawit kita kini sudah memasuki generasi keempat setelah lebih dari 100 tahun penanaman. Hasilnya stagnan, sementara peremajaan berjalan lambat,” kata Parveez. “Dengan keterbatasan lahan, satu-satunya jalan adalah memaksimalkan produktivitas.”
Lonjakan harga sawit dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat pandemi, mendorong perusahaan perkebunan mempercepat investasi di bidang otomasi. Krisis tenaga kerja membuat banyak perusahaan sadar bahwa inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
BACA JUGA: Gubernur Papua Tegas: Tak Ada Izin Baru Sawit, Fokus Tata Ulang dan Lindungi Lingkungan
Parveez menyebut sejumlah perusahaan telah mengadopsi AI, drone, citra satelit, dan alat mekanisasi untuk mengelola perkebunan secara lebih presisi. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan data satelit oleh Kuala Lumpur Kepong Bhd untuk perencanaan replanting, analisis kontur dan kondisi tanah, hingga penentuan jenis bibit dan pola pemupukan.
Teknologi drone dan pencitraan juga digunakan untuk mendeteksi hama seperti ulat kantong, kutu putih, dan kumbang badak sejak dini sebelum menyebar luas. MPOB sendiri telah membentuk Mechanisation and Automation Research Consortium of Oil Palm pada 2021 guna mempercepat adopsi teknologi secara luas di industri.
Tekanan global juga menjadi faktor pendorong. Permintaan minyak nabati dunia terus meningkat, sementara produsen utama seperti Indonesia semakin banyak mengalihkan sawit ke penggunaan non-pangan, terutama biodiesel dengan kebijakan campuran B50.
BACA JUGA: Label “No Palm Oil” Dinilai Menyesatkan, Asosiasi Pangan India Peringatkan Konsumen
“Jika Indonesia mengalihkan lebih banyak sawit ke sektor non-pangan, Malaysia harus siap mengisi celah pasar global. Tapi karena tidak bisa menambah lahan, kita harus mengoptimalkan apa yang sudah ada,” ujar Parveez. “Kuncinya ada pada genetika yang lebih baik, replanting yang tepat, dan pemanfaatan teknologi.”
Menjawab Narasi Negatif Global
Dorongan produktivitas ini juga berlangsung di tengah derasnya narasi negatif terhadap sawit di pasar Barat, terutama terkait deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati. Ketua MPOB Mohamad Helmy Othman Basha menilai posisi Malaysia berbeda dengan Indonesia dalam menyerap sawit untuk konsumsi domestik.




















