“Yang dulu bukan kawasan bisa berubah jadi kawasan hutan. Ini yang membuat terhambat,” ucap Eddy.
Dalam konteks ini, Eddy menekankan perlunya penyelesaian lintas sektor yang lebih tegas agar kewajiban plasma tidak terus menjadi sumber ketidakpastian bagi investasi dan pengembangan industri. Ia menyebut, bila aturan masih berbeda-beda antarinstansi, perusahaan akan selalu berada dalam posisi rentan, bahkan ketika berniat memenuhi kewajiban.
Di sisi lain, Eddy melihat solusi penguatan ekonomi masyarakat sekitar perkebunan tidak harus melulu bergantung pada sawit. Ia menilai kegiatan produktif lain seperti peternakan ayam, perikanan, atau sektor pangan juga bisa dikembangkan, karena hasilnya dinilai cukup kompetitif dan dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat.
BACA JUGA: Salah Paham Soal Sawit, Perlu Arah Baru Melalui ESG
Menurutnya, pengembangan ekonomi lokal semakin relevan seiring program pemerintah, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan protein yang selama ini masih bergantung pasokan dari luar wilayah. Eddy menilai, hal ini membutuhkan sosialisasi bersama dan dukungan pemerintah agar masyarakat tidak hanya terpaku pada satu komoditas.
“Kalau mau dikembangkan kegiatan produktif lainnya, itu bagus. Tapi perlu sosialisasi bersama pemerintah juga,” tutup Eddy. (T2)
