Bustanul Arifin: Sawit Harus Naik Kelas, Hilirisasi Butuh Hulu yang Kuat

oleh -3.743 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Antara/ Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin.

Namun ia mengingatkan, dinamika global mulai berubah. Pertumbuhan suplai melambat menjadi sekitar 1,4 juta ton, dibanding rata-rata 2,9 juta ton hingga 2020. Sementara itu, minyak nabati pesaing tumbuh semakin cepat.

Ia menilai sawit tidak perlu lagi mempertahankan pasar dengan strategi diskon harga, melainkan harus mengandalkan efisiensi dan produktivitas.

“Minyak sawit masih dominan, tapi tidak perlu lagi mengandalkan pangsa pasar lewat diskon harga. Yang penting efisiensi,” tegasnya.

BACA JUGA: SPKS Seruyan Tancap Gas: Peremajaan Sawit Rakyat, ISPO, hingga Sertifikasi Yuridiksi

 

Ekspor CPO Menurun, Pesaing Tumbuh

Dalam paparannya, Bustanul menyebut ekspor CPO global saat ini mencapai 55,3 juta ton, dengan pangsa CPO sekitar 49%. Angka ini lebih rendah dibanding tahun 2019 yang sempat mencapai 57%.

Untuk Indonesia, ekspor CPO pada 2025 diperkirakan 26,7 juta ton, turun dibanding 2019 yang mencapai 30,2 juta ton. Malaysia juga menunjukkan tren serupa, dari 18,4 juta ton (2019) menjadi 15,6 juta ton (2025).

BACA JUGA: MPOC: Harga CPO Februari Diproyeksi Stabil di Kisaran RM4.000–RM4.300 per Ton

Di saat yang sama, ekspor minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari justru naik sekitar 8 juta ton dalam enam tahun terakhir.

 

EUDR Jadi Pukulan Baru?

Bustanul menilai regulasi Uni Eropa, European Union Deforestation Regulation (EUDR), berpotensi memberi dampak besar bagi komoditas sawit. EUDR pada prinsipnya membatasi masuknya produk tertentu ke pasar Uni Eropa—termasuk sawit—kecuali memenuhi syarat bebas deforestasi, sesuai hukum yang berlaku, dan menjalankan uji tuntas ketertelusuran hingga geolokasi.

Ia menyebut sawit Indonesia menjadi komoditas yang diperkirakan paling terdampak, dengan nilai sekitar 5,12 miliar Euro, atau sekitar 65% dari total nilai tujuh komoditas yang diatur dalam kebijakan tersebut.

BACA JUGA: Wamenhut: Sawit Terbangun di Kawasan Hutan Capai 3,32 Juta Hektare, Data Terbaru Dekati 4 Juta

“Ketertelusuran bukan lagi pilihan, tapi menjadi syarat bertahan di pasar,” ujarnya.

 

Produktivitas Jadi Pekerjaan Rumah Terbesar

Bustanul menegaskan, tantangan paling nyata industri sawit Indonesia saat ini adalah produktivitas yang masih rendah, terutama di tingkat Smallholders.

Ia mencatat produktivitas TBS Smallholders sekitar 12,5 ton/ha, sedangkan perkebunan swasta sekitar 17,5 ton/ha. Angka tersebut masih jauh dari potensi yang bisa mencapai 30 ton/ha.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com