InfoSAWIT, JAKARTA – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Fadhil Hasan, menilai langkah menuju implementasi B50 berpotensi menjadi game changer dalam menghentikan impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, peningkatan bauran biodiesel bukan hanya kebijakan transisi energi, tetapi juga strategi ekonomi yang berdampak luas.
“B50 adalah langkah strategis dan pragmatis—impor ditekan, devisa dihemat, emisi turun, dan ketahanan energi diperkuat, selama dikelola secara berkelanjutan,” ujar Fadhil Hasan, saat berbicara pada Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026, dihadiri InfoSAWIT, di Depok, Kamis (5/2).
Ia menjelaskan, pengalaman penerapan B40 pada 2025 telah memberikan bukti konkret bahwa biodiesel mampu berperan sebagai instrumen kebijakan ekonomi strategis. Keberhasilan tersebut menjadi dasar kuat untuk mendorong peningkatan blending ke level berikutnya.
BACA JUGA: Sawit Kian Strategis dalam Kebijakan Energi Nasional, Ini Penekanan DEN di PP 40/2025
Lebih lanjut, Fadhil menambahkan bahwa apabila program B50 berjalan seiring dengan penyelesaian proyek RDMP Kilang Balikpapan, kebutuhan impor solar dapat ditekan secara signifikan. Bahkan, dalam rilis Januari 2026, Menteri ESDM menyampaikan bahwa Indonesia diproyeksikan mengalami surplus solar hingga 4 juta ton per tahun mulai 2026.
“Dari sudut pandang DEN, ini merupakan lompatan besar menuju kemandirian energi, khususnya di sektor transportasi,” tegasnya.
Meski demikian, Fadhil mengingatkan agar peningkatan blending biodiesel dikelola secara hati-hati. Keberlanjutan pasokan CPO, pemanfaatan potensi surplus solar, serta keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energi (food versus fuel) harus tetap menjadi perhatian utama agar kebijakan B50 tidak memunculkan risiko baru bagi industri sawit dan perekonomian nasional. (T2)
