InfoSAWIT, JAKARTA – Lebih dari seratus pemuda dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul dalam SEA Youth Summit 2026 di Aryaduta Menteng, Jakarta, 9 Februari 2026. Forum bertema “Youth Action for Just and Inclusive Green Transition” ini menjadi panggung kolaborasi generasi muda ASEAN untuk mendorong transisi hijau yang adil dan inklusif.
Diselenggarakan oleh ASEAN Youth Forum (AYF) melalui program CO-EVOLVE 2 yang diprakarsai Yayasan Penabulu dengan dukungan Uni Eropa, pertemuan ini menghadirkan aktivis muda, penggerak komunitas, pembuat kebijakan, akademisi, serta perwakilan organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara di kawasan.
Forum ini menyoroti tantangan mendesak di Asia Tenggara, di mana percepatan transisi hijau dinilai belum sepenuhnya berpihak pada hak asasi manusia, perspektif akar rumput, dan kelompok yang paling terdampak krisis lingkungan. Dengan lebih dari 218 juta penduduk muda di ASEAN, partisipasi generasi muda dinilai krusial dalam menentukan arah masa depan kawasan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II-Januari 2026 Naik Rp 24,94 per Kg
Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, H.E. Sujiro Seam, dalam sambutannya menekankan bahwa Asia Tenggara kini tidak lagi berada pada tahap memprediksi krisis iklim, melainkan telah mengalaminya secara langsung.
“Transisi hijau bukan sekadar tentang teknologi atau pendanaan, tetapi tentang keadilan sosial. Tidak boleh ada komunitas yang tertinggal atau kesenjangan baru yang tercipta,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Sabtu (14/2/2026).
Pesan tersebut menguatkan diskusi sepanjang forum, yang menekankan bahwa kebijakan hijau tanpa keadilan sosial berpotensi memperlebar ketimpangan. Sejumlah peserta menyoroti risiko perampasan lahan dan menyempitnya ruang sipil apabila kebijakan transisi energi dan lingkungan tidak dirancang secara inklusif, khususnya bagi masyarakat adat, perempuan, dan kelompok rentan lainnya.
BACA JUGA: Apical Dorong Ekonomi Produktif Berbasis Limbah Non-B3, Rumah FABA Kreasi Muda Diresmikan di Dumai
Perwakilan Indonesia untuk ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR), H.E. Anita Ashvini Wahid, menegaskan bahwa krisis iklim tidak dapat diselesaikan secara terpisah dari isu hak asasi manusia dan partisipasi publik.
“Partisipasi generasi muda harus bergerak ke hulu. Kita harus berjalan bergandengan tangan untuk mewujudkan transisi hijau yang berkelanjutan bagi semua,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Program Yayasan Penabulu, Rini Devianti Nasution, menyebut generasi muda sebagai katalis perubahan yang memegang peran strategis dalam memastikan agenda keberlanjutan tetap berpihak pada keadilan.
BACA JUGA: LDC Indonesia Perkuat Rantai Pasok Berkelanjutan, Dorong Praktik Regeneratif untuk Petani Kopi
“Pemuda adalah suara kritis dan penjaga hati nurani kolektif dalam menegakkan keadilan,” ujarnya.
Selama berlangsungnya summit, berbagai platform diskusi digelar, mulai dari Grand ASEAN Youth Town Hall, sesi paralel tematik, hingga Green Youth Hub Exhibition. Beragam inisiatif yang dipamerkan mencakup keadilan energi, pendanaan hijau berbasis komunitas, serta model ekonomi sirkular yang dikembangkan dari kreativitas lokal.
Pertemuan ini ditutup dengan pengesahan SEA Youth Summit Communiqué, sebuah pernyataan kolektif yang memuat rekomendasi kebijakan dan tuntutan kepada pemerintah serta institusi ASEAN. Dokumen tersebut menyerukan partisipasi bermakna pemuda, penguatan ruang sipil, serta pengakuan penuh atas hak atas lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (T2)
