InfoSAWIT, JAKARTA – Skema agroforestri sawit dinilai berpotensi menjadi solusi transisi menuju praktik yang lebih berkelanjutan di kawasan hutan. Studi terbaru yang dipublikasikan di Springer.com dan dikutip InfoSAWIT, Agroforestry System,mengungkap perbedaan signifikan tingkat dan waktu puncak adopsi berbagai kombinasi komoditas dalam sistem Oil Palm Agroforestry (OPAF) di bawah Program Perhutanan Sosial.
Ekspansi perkebunan sawit monokultur selama ini memang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Namun, pengembangan skala besar di kawasan berhutan juga memicu deforestasi dan meningkatkan sorotan dari negara-negara pasar utama, terutama Uni Eropa, yang berpotensi menerapkan pembatasan perdagangan terhadap produk sawit yang dikaitkan dengan deforestasi.
Sebagai respons, pemerintah Indonesia mendorong penerapan Strategi Jangka Benah, yakni pendekatan transisi untuk mengonversi kebun sawit monokultur di dalam kawasan hutan negara menjadi sistem agroforestri sawit (OPAF) melalui skema perhutanan sosial. Model ini dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus tetap memberikan nilai ekonomi bagi petani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II-Februari 2026 Naik Tipis Cenderung Stagnan
Prediksi Puncak Adopsi Berbeda Antar Komoditas
Penelitian ini menggunakan kerangka Adoption and Diffusion Outcome Prediction Tool untuk memprediksi puncak adopsi dan garis waktu adopsi, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani.
Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan diskusi kelompok terfokus terhadap 136 smallholders di Jambi. Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok antar kombinasi tanaman dalam sistem OPAF:
- Sawit–Shorea leprosula diprediksi mencapai puncak adopsi 39% dalam 20 tahun.
- Sawit–Durio zibethinus diprediksi mencapai 95% dalam 19 tahun.
- Sawit–Falcataria moluccana diprediksi tertinggi, 98% dalam 13 tahun.
BACA JUGA: Apical Dorong Ekonomi Produktif Berbasis Limbah Non-B3, Rumah FABA Kreasi Muda Diresmikan di Dumai
Temuan ini mengindikasikan bahwa kombinasi sawit dengan tanaman bernilai ekonomi cepat atau kayu cepat tumbuh seperti sengon (Falcataria moluccana) jauh lebih menarik bagi petani dibandingkan kombinasi dengan jenis kayu hutan alam seperti Shorea leprosula.
Faktor Penentu: Biaya Awal dan Manfaat Ekonomi
Penelitian tersebut menegaskan bahwa waktu untuk mencapai puncak adopsi sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama: kemudahan untuk diuji coba (trialability), kompleksitas inovasi, serta besarnya biaya awal adopsi.
Sementara itu, tingkat puncak adopsi lebih banyak ditentukan oleh persepsi manfaat ekonomi saat ini dan masa depan, serta manfaat lingkungan yang dirasakan petani.
BACA JUGA: Diva Tanzil Dipercaya Pacu Transformasi Petani Kopi Lewat Stronger Coffee Initiative di Sumatera
Faktor sosial-ekonomi juga berperan signifikan. Jumlah anggota keluarga dan pendapatan bulanan terbukti memengaruhi keputusan petani untuk mengadopsi sistem agroforestri sawit. Semakin besar tanggungan keluarga dan semakin kuat kapasitas ekonomi, semakin besar kecenderungan untuk berinvestasi pada sistem yang dinilai lebih berkelanjutan.
Berdasarkan temuan tersebut, studi merekomendasikan sejumlah langkah kebijakan untuk mempercepat adopsi OPAF, antara lain penurunan biaya awal, penyederhanaan teknis implementasi, serta peningkatan akses informasi dan pendampingan kepada petani.
Bagi Indonesia, keberhasilan transisi menuju agroforestri sawit tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga menyangkut daya saing produk sawit di pasar global yang semakin sensitif terhadap aspek keberlanjutan. Model OPAF dinilai dapat menjadi jembatan antara kepentingan konservasi dan keberlanjutan ekonomi petani, selama didukung kebijakan yang tepat dan berbasis bukti ilmiah. (T2)
