InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Upaya Malaysia memperkuat keberlanjutan industri sawit nasional terus menunjukkan kemajuan signifikan. Sekitar 90% perkebunan sawit di Malaysia telah memperoleh sertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil, sementara tingkat sertifikasi Smallholders independen telah mencapai 85%.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, Noraini Ahmad, saat menyampaikan tanggapan penutup dalam pembahasan usul menjunjung kasih atas Titah Diraja bagi kementeriannya di Dewan Rakyat, Selasa.
Noraini menegaskan bahwa pemerintah Malaysia berkomitmen penuh untuk memastikan kepatuhan terhadap European Union Deforestation-Free Products Regulation, tidak hanya untuk sektor sawit, tetapi juga seluruh komoditas lainnya.
BACA JUGA: Ratusan Pemuda ASEAN Serukan Transisi Hijau yang Adil di SEA Youth Summit 2026
Untuk mendukung capaian tersebut, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) telah memberikan bantuan hibah penuh kepada petani agar dapat memperoleh sertifikasi MSPO. Langkah ini dinilai krusial dalam memperkuat posisi minyak sawit Malaysia di pasar global, khususnya Uni Eropa.
Sistem Ketertelusuran Nasional Masuk Tahap Akhir
Sejalan dengan tuntutan EUDR yang menekankan aspek ketertelusuran, Noraini mengungkapkan bahwa Kementerian Perladangan dan Komoditi (KPK) saat ini berada pada tahap akhir pengembangan National Traceability System atau Sistem Ketertelusuran Nasional (SKN).
SKN dirancang sebagai sistem terintegrasi yang menggabungkan berbagai sistem eksisting di bawah KPK guna mendukung kepatuhan terhadap EUDR serta kebutuhan keberlanjutan global di masa depan. Implementasi penuh SKN ditargetkan rampung pada Maret 2026.
BACA JUGA: Apical Dorong Ekonomi Produktif Berbasis Limbah Non-B3, Rumah FABA Kreasi Muda Diresmikan di Dumai
Noraini menjelaskan, terdapat tiga sistem utama yang menjadi tulang punggung SKN, yakni Sawit Intelligent Management System (SIMS), GeoSawit, dan e-MSPO.
SIMS berfungsi mencatat data perizinan dan transaksi rantai pasok dari perkebunan hingga pelabuhan ekspor. GeoSawit memetakan lokasi dan batas poligon kebun sawit, termasuk pemantauan deforestasi sesuai ketentuan EUDR. Sementara e-MSPO menampilkan status sertifikasi MSPO terkini beserta informasi audit terkait.
“Melalui SKN, seluruh rantai pasok minyak sawit Malaysia akan memiliki data geolokasi yang lengkap, pemantauan deforestasi, informasi kepemilikan, lisensi MPOB yang sah, status sertifikasi MSPO, hingga rekam jejak transaksi digital dari kebun sampai produk akhir,” jelas Noraini.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II-Februari 2026 Naik Tipis Cenderung Stagnan
Fokus Produktivitas dan Replanting
Noraini juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini, total luas perkebunan sawit berizin di Malaysia mencapai sekitar 5,7 juta hektare. Ke depan, pemerintah akan memfokuskan kebijakan pada peningkatan produktivitas nasional melalui pendekatan strategis, termasuk pelaksanaan program peremajaan terarah seperti Oil Palm Smallholder Replanting Programme 2.0.
Selain sawit, sektor lada juga mendapat perhatian. Noraini menyampaikan bahwa Malaysian Pepper Board mendorong petani untuk memproduksi lada premium seperti Export Quality Pepper dan Creamy White Pepper, yang mampu meraih harga hingga RM65.000 per ton di pasar.
Dilansir InfoSAWIT dari Bernama, Minggu (15/2/2206), langkah-langkah tersebut menegaskan komitmen Malaysia dalam menjaga daya saing komoditas perkebunan nasional melalui penguatan aspek keberlanjutan, produktivitas, dan kepatuhan terhadap standar global. (T2)
