InfoSAWIT, JAKARTA – Transformasi kebijakan hijau China melalui Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) dinilai akan membawa dampak besar terhadap rantai pasok pertanian global, termasuk industri minyak sawit yang semakin dituntut memenuhi standar keberlanjutan.
Kepala Transformasi Pasar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk China, Lifeng Fang, menyatakan bahwa visi “Beautiful China” menjadi arah baru pembangunan yang mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam seluruh aktivitas ekonomi.
“Visi ‘China yang Indah’ mencerminkan masa depan di mana produksi dan gaya hidup ramah lingkungan menjadi arus utama, emisi karbon mencapai puncaknya, serta ekosistem—termasuk keanekaragaman hayati—semakin kuat dan tangguh,” ujar Fang.
BACA JUGA: Dorong B50, Kementan Percepat Hilirisasi Biodiesel Sawit untuk Kemandirian Energi
Dilansir InfoSAWIT, dari RSPO pada Rabu (1/4/2026), China kini bergerak dari pendekatan bertahap menuju transformasi sistemik, di mana isu iklim, keberlanjutan, dan lingkungan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam produksi, konsumsi, keuangan, hingga perdagangan.
Fang menegaskan bahwa perubahan ini juga menggeser posisi keberlanjutan dari sekadar komitmen sukarela menjadi bagian dari mekanisme pasar.
“Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi bagian dari aturan pasar dan ekspektasi perdagangan global,” tegasnya.
BACA JUGA: Laba Melonjak 60%, DSNG Bukukan Kinerja Solid Sepanjang 2025
Rantai Pasok Jadi Kunci Transformasi
Dalam konteks tersebut, sektor pertanian menjadi pusat perhatian. Praktik keberlanjutan kini semakin ditentukan melalui rantai pasok, termasuk melalui standar, transparansi, dan mekanisme perdagangan.
“Persyaratan keberlanjutan kini ditransmisikan melalui rantai pasok. Ini membuat komoditas seperti minyak sawit harus mampu memenuhi standar global yang semakin ketat,” jelas Fang.
Bagi industri sawit, hal ini menandai perubahan besar, di mana sertifikasi keberlanjutan seperti RSPO menjadi semakin relevan dalam memenuhi permintaan pasar.
Sebagai importir minyak sawit terbesar kedua di dunia dan konsumen terbesar ketiga, China memiliki pengaruh besar terhadap praktik produksi di negara produsen, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Data menunjukkan bahwa hingga akhir 2025, RSPO telah memiliki 529 anggota di China dan 474 fasilitas rantai pasok tersertifikasi. Konsumsi minyak sawit berkelanjutan bersertifikat (CSPO) mencapai sekitar 550 ribu ton atau sekitar 11,7% dari total konsumsi pada 2024.
“Fondasi sudah terbentuk, dan fase berikutnya adalah mempercepat skala adopsi minyak sawit berkelanjutan,” ungkap Fang.
