InfoSAWIT, SABAH — Pemerintah Negara Bagian Sabah, Malaysia, terus memperkuat langkah menuju industri minyak sawit berkelanjutan melalui penerapan Juridictional Approach Sustainable Palm Oil (JASPO). Pendekatan ini menjadi tonggak penting dalam memastikan keseimbangan antara produksi minyak sawit dan perlindungan keanekaragaman hayati, termasuk habitat orangutan serta satwa liar lainnya.
Sabah merupakan salah satu wilayah utama penghasil minyak sawit di Malaysia. Dengan luas kebun sawit mencapai 1,5 juta hektare dan 128 pabrik kelapa sawit (PKS) yang memproses sekitar 34,7 juta ton tandan buah segar (TBS) setiap tahun, provinsi ini menyumbang sekitar 4,5 juta ton CPO, atau 26,6% dari total produksi nasional.
Direktur Sabah JASPO Initiative, Julia Majail, menjelaskan bahwa kesuksesan pendekatan yurisdiksi di Sabah tidak lepas dari dukungan kuat pemerintah daerah dan masyarakat setempat. “Pendekatan yurisdiksi Sabah mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Sabah dan komunitas lokal,” ujar Julia kepada InfoSAWIT di sela kegiatan pada kegiatan Palm Oil Tour RSPO 2025 di Sandakan, Sabah, Malaysia, yang berlangsung 6–8 November 2025.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 7-13 November 2025 Turun Rp 124,51 per Kg
Menurut Julia, JASPO bertujuan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam tata kelola wilayah dan industri sawit di tingkat pemerintahan. Melalui pendekatan ini, upaya penerapan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dapat berjalan lebih sistematis, melibatkan pemerintah daerah, perusahaan, hingga petani kecil dalam satu kerangka kebijakan bersama.
“Pada awalnya, banyak pihak yang ragu untuk terlibat karena berbagai tantangan di lapangan,” ungkapnya. “Namun seiring waktu, dukungan mulai menguat, terutama setelah pemerintah menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan sawit berkelanjutan.”
Julia menilai, keberhasilan JASPO di Sabah juga sangat bergantung pada kepedulian konsumen global terhadap isu keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa komitmen pasar untuk membeli produk sawit berkelanjutan merupakan faktor penting agar inisiatif ini terus berkembang. “Kepedulian terhadap sustainability perlu disertai kemauan konsumen untuk membayar nilai tambah dari dompetnya,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (7/11), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Meski dukungan kebijakan dari pemerintah daerah sudah cukup baik, Julia mengakui bahwa kebutuhan pendanaan masih menjadi tantangan utama. Ia berharap dukungan finansial dari pemerintah dapat terus berlanjut agar berbagai inisiatif keberlanjutan berjalan optimal. “Kendati tidak ada hambatan dari sisi regulasi, kami tetap berharap dukungan keuangan, mungkin selama dua hingga tiga tahun ke depan, agar program ini benar-benar bisa berhasil,” kata Julia menambahkan.
Dengan komitmen kuat pemerintah dan keterlibatan multipihak, Sabah kini menempatkan diri sebagai salah satu model penting penerapan pendekatan yurisdiksi sawit berkelanjutan di tingkat regional. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah penghasil sawit lainnya di Asia Tenggara untuk menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan. (T1)
