Palm Oil Is Not the Villain, Chairman MPOB Serukan Kejujuran dan Konsistensi dalam Perjuangan Minyak Sawit Berkelanjutan

oleh -2.453 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Datuk Mohamad Helmy Othman Basha, Group Managing Director of SD Guthrie and Chairman of the Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

KUALA LUMPUR, InfoSAWIT — Di hadapan para pemimpin industri sawit dunia dalam ajang Roundtable Meeting on Sustainable Palm Oil (RT2025) di Kuala Lumpur, Datuk Mohamad Helmy Othman Basha, Group Managing Director SD Guthrie sekaligus Chairman Malaysian Palm Oil Board (MPOB), menyampaikan pesan yang tegas: “Palm oil is not the villain.”

Dalam pidato bertajuk “Partners in Action”, Helmy mengajak seluruh pemangku kepentingan industri sawit untuk jujur, konsisten, dan saling percaya dalam membangun masa depan minyak sawit yang berkelanjutan. Ia menekankan, keberlanjutan tidak hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang manusia—terutama para petani kecil yang menjadi tulang punggung industri ini.

“Saya telah bekerja hampir 30 tahun di industri perkebunan, dari Malaysia hingga Afrika. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sawit mengubah kehidupan banyak orang, menciptakan peluang, dan membangun komunitas,” ujar Helmy dalam pidatonya yang dihadiri InfoSAWIT, Senin (3/11/2025).

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 31 Oktober – 6 November 2025 Turun Rp 39,71 per Kg

Namun, di balik kemajuan tersebut, ia menyoroti paradoks yang terjadi di meja perundingan keberlanjutan. “Ada merek global yang duduk bersama kita di RSPO, namun di rak toko mereka menempelkan label ‘No Palm Oil’. Apa pesan yang ingin mereka sampaikan kepada konsumen? Apakah itu bentuk kemitraan yang jujur?”

Helmy menegaskan, jika benar percaya pada minyak sawit berkelanjutan, maka para anggotanya harus berani membela komoditas ini secara konsisten. “To believe in Certified Sustainable Palm Oil is to defend it — publicly and without apology,” tegasnya.

Industri Sawit dan Tuduhan Deforestasi

Helmy tidak menutup mata terhadap sejarah panjang tudingan deforestasi yang melekat pada industri sawit. Namun, ia menekankan perlunya narasi baru yang berlandaskan data. Mengutip laporan World Resources Institute dan Global Forest Watch, ia menyebutkan bahwa kehilangan hutan primer di Indonesia dan Malaysia telah menurun tajam dalam satu dekade terakhir — lebih dari 60% di Malaysia, dan mencapai titik terendah dalam sejarah di Indonesia.

BACA JUGA: RSPO Bentuk Komite Eksekutif untuk Tingkatkan Efisiensi dan Dukung Petani Sawit Berkelanjutan

“Kedua negara ini masih memiliki lebih dari 50% tutupan hutan — lebih tinggi dari banyak negara maju,” ungkapnya.

Namun, meskipun data menunjukkan kemajuan nyata, Helmy menyayangkan perlakuan standar ganda dari regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR). “Ketika negara dengan kinerja baik seperti Malaysia diberi label standard risk, sementara negara lain yang kehilangan lebih banyak hutan disebut low risk, itu bukan hanya tidak adil — itu bentuk kolonialisme ekonomi modern,” ujarnya lantang.

Kemandirian Energi dan Arah Baru Industri

Helmy juga menyoroti pergeseran besar yang sedang terjadi di negara produsen utama, terutama Indonesia. Dengan implementasi program biodiesel B40 menuju B50 dan bahkan B60, semakin banyak minyak sawit yang dialihkan untuk kebutuhan energi domestik. “Ketika dunia Barat sibuk membahas pelarangan sawit, Indonesia dan Malaysia justru memanfaatkannya untuk ketahanan energi nasional,” katanya.

BACA JUGA: RT2025: RSPO Ajak Dunia Sawit Global Wujudkan Keberlanjutan dalam Aksi

Menurut Helmy, langkah tersebut adalah bentuk kemandirian yang sah. “Setiap negara berhak melindungi kepentingannya. Jika dunia terus menolak sawit dengan pandangan sempit, mereka akan kehilangan akses pada minyak nabati paling efisien dan berkelanjutan di dunia.”


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com