Selain regulasi, penguatan keuangan hijau juga menjadi faktor penting dalam mendorong transformasi ini. Pemerintah China telah memperluas cakupan pembiayaan hijau dan mendorong perdagangan berbasis keberlanjutan.
“Ketika insentif keuangan, regulasi, dan standar pasar berjalan selaras, adopsi praktik berkelanjutan akan meningkat secara signifikan,” kata Fang.
Ia menambahkan, kondisi ini membuka peluang besar bagi lembaga keuangan dan pelaku industri untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam investasi dan operasional bisnis.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode 22 – 31 Maret 2026 Tembus Rp4.125,52 per Kg
Dengan kerangka kebijakan yang semakin terintegrasi, China dinilai berpotensi menjadi pendorong utama transisi pertanian hijau di Asia.
“Perdagangan berkelanjutan akan menjadi jembatan utama antara agenda hijau China dan transformasi pertanian global,” ujar Fang.
Bagi pelaku industri sawit, momentum ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat rantai pasok berkelanjutan, meningkatkan ketertelusuran, serta memenuhi ekspektasi pasar global yang semakin tinggi terhadap praktik ramah lingkungan.
BACA JUGA: Aset Tumbuh 12%, CSRA Perkuat Fondasi Keuangan untuk Ekspansi Berkelanjutan
Perubahan ini menandai babak baru bagi industri sawit, di mana keberlanjutan bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi prasyarat utama dalam persaingan pasar global. (T2)
