InfoSAWIT, YOGYAKARTA – Upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya tak benda terus dikembangkan seiring tantangan penggunaan bahan baku yang masih bergantung pada produk berbasis fosil. Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta memperkenalkan inovasi malam batik berbahan turunan kelapa sawit kepada para pengrajin di Kampung Batik Tamansari sebagai solusi ramah lingkungan.
Faktanya batik telah diakui UNESCO sejak 2009 sebagai warisan budaya dunia, sementara Yogyakarta ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia pada 2014 berkat nilai sejarah, keaslian, hingga dampak ekonominya. Namun, penggunaan paraffin sebagai bahan utama malam batik dinilai menjadi tantangan karena berasal dari sumber fosil.
Sebagai alternatif, stearin—fraksi padat dari minyak kelapa sawit—memiliki karakteristik fisik yang menyerupai paraffin. Inovasi malam batik berbahan sawit yang dikembangkan sejak 2025 dinilai mampu menjadi solusi berkelanjutan, meski belum banyak dikenal oleh para pengrajin.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode 8 – 14 April 2026 Naik Rp101,47 per Kg
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat INSTIPER yang dipimpin Betti Yuniasih, M.Sc., menggelar program edukasi dan pendampingan kepada 10 pengrajin batik di Kampung Tamansari selama periode Januari hingga April 2026.
“Pemilihan lokasi di Kampung Tamansari dikarenakan kawasan ini merupakan salah satu sentra batik sekaligus destinasi wisata yang ramai. Harapannya, kegiatan ini menjadi kampanye positif untuk memperkenalkan produk turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan, tidak hanya kepada pengrajin tetapi juga wisatawan,” ujar Betti, dalam keterangannnya kepada InfoSAWIT pada Kamis (16 April 2026).
Program ini diawali dengan pre-test yang menunjukkan sebagian besar peserta belum mengenal malam batik berbahan sawit, bahkan seluruhnya belum pernah menggunakannya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan edukasi, praktik membatik, uji kualitas, hingga diskusi kelompok (FGD).
BACA JUGA: Capex Rp1,5 Triliun, Bumitama Targetkan Produksi Naik 5 Persen di 2026
“Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar belum mengenal malam kelapa sawit dan semuanya belum pernah memanfaatkannya dalam proses membatik,” ungkap Betti
Hasil uji kualitas menunjukkan bahwa malam batik berbahan sawit memiliki performa lebih baik dibandingkan malam konvensional berbasis paraffin.
Ketua Paguyuban Batik Kampung Tamansari, Iwan Setiawan, menyampaikan, bahwa hasil pengujian kualitas malam kelapa sawit menunjukkan performa yang lebih baik daripada malam yang biasa di gunakan. “Malam kelapa sawit lebih cepat meleleh, asap lebih sedikit, dan aromanya tidak menyengat,” ungkap Iwan.
BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Gelar Uji Kompetensi Mahasiswa Beasiswa Sawit, Siapkan Asisten Kebun Profesional
Ia juga menambahkan bahwa malam sawit lebih mudah digunakan saat proses pencantingan dan tidak lengket, sehingga meningkatkan efisiensi kerja para pengrajin. Dari sisi hasil akhir, batik yang dihasilkan juga lebih baik karena tidak mudah retak dan mampu menahan warna secara optimal.
Selain itu, penggunaan stearin dinilai lebih ramah lingkungan karena bersifat biodegradable, terbarukan, serta memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan fosil.
“Kami tertarik untuk beralih ke malam batik kelapa sawit karena lebih ramah lingkungan. Kami juga berharap kerja sama dengan INSTIPER atau pihak lain dapat berlanjut untuk mewujudkan eco-batik lestari,” jelas Iwan.
BACA JUGA: Wilmar Catat Laba Inti US$1,28 Miliar, Kinerja 2025 Terdampak Tantangan Global
Melalui program ini, INSTIPER berharap inovasi malam batik sawit dapat semakin dikenal luas dan menjadi bagian dari transformasi industri batik menuju praktik yang lebih berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor industri kelapa sawit. (T2)
