InfoSAWIT, JAKARTA – Lim Gunawan Hariyanto, Executive Chairman sekaligus Chief Executive Officer Bumitama Agri Ltd, menegaskan bahwa kinerja perusahaan sepanjang 2025 tetap terjaga di tengah tekanan global, berkat disiplin operasional dan strategi berbasis efisiensi yang konsisten dijalankan.
Dilansir InfoSAWIT dari laporan tahunan Bumitama Agri Ltd, pada Rabu (15 April 2026), manajemen menyampaikan bahwa perusahaan mampu mempertahankan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar komoditas.
Secara global, pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dari 3,3 persen pada 2024 menjadi 3,2 persen pada 2025, seiring dinamika kebijakan di negara-negara besar serta dampak perlambatan ekonomi China. Namun demikian, permintaan minyak nabati tetap tinggi, bahkan melampaui kemampuan pasokan.
BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Gelar Uji Kompetensi Mahasiswa Beasiswa Sawit, Siapkan Asisten Kebun Profesional
Dalam industri minyak nabati, penggunaan sebagai bahan bakar nabati menjadi pendorong utama peningkatan permintaan, yang turut mengerek harga komoditas. Sementara itu, produksi minyak sawit mentah (CPO) global tercatat meningkat 3,7 persen menjadi 83,3 juta ton, dengan kontribusi utama berasal dari Indonesia.
Sepanjang 2025, harga CPO bergerak stabil dalam kisaran MYR 3.500 hingga MYR 4.500 per ton, mencerminkan peran strategis sawit dalam pasar global sekaligus pengaruh kuat kebijakan domestik, termasuk program biodiesel Indonesia.
Dari sisi operasional, Bumitama mencatat peningkatan kinerja produksi. Total produksi tandan buah segar (TBS) dari kebun inti dan plasma mencapai 3,43 juta ton atau naik 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produktivitas lahan juga meningkat, dengan yield mencapai 19,5 ton per hektare.
BACA JUGA: Wilmar Catat Laba Inti US$1,28 Miliar, Kinerja 2025 Terdampak Tantangan Global
Selain itu, tingkat ekstraksi minyak (OER) meningkat menjadi 22,2 persen, didukung oleh perbaikan kualitas buah seiring kondisi cuaca yang lebih stabil. Total produksi CPO perusahaan pun naik 9,8 persen menjadi 1,25 juta ton sepanjang 2025.
“Peningkatan ini turut ditopang oleh kenaikan pasokan TBS dari pihak ketiga sebesar 21,8 persen menjadi 2,22 juta ton, sehingga total TBS yang diolah mencapai 5,65 juta ton,” catat Lim dalam laporan tahunan tersebut.
Manajemen menilai capaian tersebut mencerminkan ketahanan operasional perusahaan, yang didukung oleh penerapan agronomi presisi, mekanisasi, serta praktik operasional berbasis sirkular untuk menghadapi variabilitas cuaca.
BACA JUGA: Stok Minyak Sawit Malaysia Diproyeksi Turun, Permintaan Global dan B50 Jadi Pendorong Harga
Memasuki 2026, Bumitama memproyeksikan industri sawit masih akan diwarnai ketidakpastian, baik dari sisi kebijakan global maupun dinamika pasar. Namun, permintaan domestik diperkirakan tetap kuat, terutama dengan keberlanjutan program biodiesel B40 dan potensi implementasi B50.
Perusahaan memperkirakan produksi sawit global akan tumbuh terbatas akibat faktor struktural seperti minimnya ekspansi lahan, usia tanaman, serta tantangan perubahan iklim.
Untuk itu, strategi perusahaan difokuskan pada peningkatan produktivitas dan efisiensi, termasuk program replanting seluas 3.000–4.000 hektare serta penanaman baru sekitar 500–1.000 hektare. Bumitama juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp1,5 triliun pada 2026.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melorot Pada Selasa (14/4), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Dengan langkah tersebut, perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi hingga 5 persen pada tahun 2026, sembari tetap menjaga disiplin keuangan dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Manajemen optimistis, dengan fondasi operasional yang kuat dan strategi yang terarah, Bumitama mampu menghadapi dinamika industri sekaligus terus menciptakan nilai bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. (T2)
