InfoSAWIT, SINGAPURA – Perusahaan agribisnis global Wilmar International terus memperkuat kinerja segmen Plantation & Sugar Milling dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional di tengah tekanan harga komoditas dan tantangan cuaca.
Dilansir InfoSAWIT dari laporan tahunan perusahaan, pada Kamis (16 April 2026), Wilmar mencatat total luas tanam kelapa sawit mencapai 234.334 hektare (ha) hingga akhir 2025. Selain itu, melalui skema joint venture, perusahaan juga memiliki perkebunan di Uganda dan Afrika Barat seluas sekitar 58.000 ha.
Tak hanya itu, Wilmar juga mengelola 36.597 ha kebun melalui skema smallholders di Indonesia dan Afrika, serta 189.806 ha lainnya melalui perusahaan asosiasi di Afrika. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat basis produksi sekaligus mendorong kemitraan dengan petani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode 8 – 14 April 2026 Naik Rp101,47 per Kg
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan mempercepat program peremajaan (replanting) sehingga usia rata-rata tanaman tetap terjaga di kisaran 14 tahun.” Saat ini, sekitar 47% tanaman berada pada usia produktif utama 7–18 tahun, sementara 20% lainnya berusia enam tahun ke bawah,” demikian catat managemen dalam laporan tahunan tersebut.
Di sektor gula, Wilmar mengoperasikan pabrik tebu dan bit di Australia, India, Myanmar, dan China. Perusahaan bahkan menjadi produsen gula mentah terbesar di Australia dengan kontribusi lebih dari separuh produksi nasional. Setiap tahun, sekitar 14 juta metrik ton tebu diolah untuk menghasilkan sekitar dua juta metrik ton gula mentah, dengan sekitar 80% diekspor ke pasar global.
Wilmar juga menguasai 62,5% saham Shree Renuka Sugars Limited di India yang memiliki kapasitas penggilingan tebu mencapai 9,2 juta metrik ton per tahun serta fasilitas produksi etanol 1.250 kiloliter per hari. Di Myanmar, kapasitas produksi gula mencapai 1,4 juta metrik ton, sementara di China perusahaan mengolah bit gula di wilayah Inner Mongolia.
BACA JUGA: Capex Rp1,5 Triliun, Bumitama Targetkan Produksi Naik 5 Persen di 2026
Dari sisi kinerja, segmen Plantation & Sugar Milling mencatat kenaikan laba sebelum pajak sebesar 32% menjadi US$356,5 juta pada FY2025. Peningkatan ini didorong oleh kinerja kuat pada semester pertama seiring tingginya harga minyak sawit. Namun, tekanan harga sawit dan gula di paruh kedua tahun menyebabkan penurunan kinerja.
Produksi tandan buah segar (TBS) di perkebunan sawit tercatat turun 2% menjadi 4,0 juta metrik ton akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung di Indonesia. Sementara di sektor gula, Wilmar mulai mengintegrasikan teknologi big data dan kecerdasan buatan (AI) melalui anak usaha GeoWatch Labs untuk pemantauan tanaman, termasuk penggunaan sistem micro-farming berbasis satelit.
Memasuki 2026, perusahaan memperkirakan produksi minyak sawit global cenderung stagnan, dipengaruhi oleh faktor usia tanaman dan variabilitas cuaca.” Selain itu, pembatasan ekspansi lahan akibat tuntutan keberlanjutan juga diprediksi akan menahan pertumbuhan produksi jangka panjang,” catat managemen.
BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Gelar Uji Kompetensi Mahasiswa Beasiswa Sawit, Siapkan Asisten Kebun Profesional
Pihak Wilmar menegaskan akan lebih fokus pada peningkatan produktivitas melalui perbaikan operasional dan agronomi dibandingkan ekspansi lahan baru. Di sisi lain, produksi gula diproyeksikan meningkat seiring potensi panen tebu yang lebih besar, meski tetap bergantung pada kondisi cuaca dan dinamika harga global.
Perusahaan juga menekankan pentingnya pengelolaan biaya yang disiplin serta peningkatan produktivitas di tingkat operasional guna menjaga daya saing di tengah ketidakpastian pasar.
Di tengah dinamika tersebut, Wilmar tetap menjaga komunikasi terbuka dengan para pemangku kepentingan, termasuk investor dan analis, guna memastikan transparansi serta menjaga kepercayaan terhadap arah strategi perusahaan. (T2)
