InfoSAWIT, JAKARTA – Fadhil Hasan, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menegaskan ada lima isu krusial yang perlu dicermati dalam hubungan dagang minyak sawit antara Indonesia dan India. Pertama, tren penurunan impor India dari Indonesia sejak 2024. Data menunjukkan, periode Januari–Juni 2025 ekspor sawit ke India merosot hingga 28% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Faktor utama: harga sawit global yang sempat lebih tinggi dari minyak nabati lain, membuat India beralih ke sumber alternatif.
Isu kedua, program mandatory biodiesel di Indonesia. Peningkatan bauran hingga B40 menimbulkan kekhawatiran ketersediaan pasokan sawit untuk ekspor, termasuk bagi India. Rencana pemerintah menuju B50 atau lebih tinggi di tahun-tahun mendatang akan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasar.
Ketiga, upaya India mengejar swasembada minyak nabati dalam dua dekade ke depan. Meski rencana itu berpotensi menekan impor, Fadhil melihat peluang kerja sama tetap terbuka, terutama dalam penyediaan bibit dan teknologi dari Indonesia.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 18-24 Februari 2026 Naik Tipis Cenderung Stagnan
Keempat, inkonsistensi kebijakan tarif impor di India. Kerap naik-turun secara tiba-tiba, kebijakan ini menyulitkan eksportir Indonesia memprediksi pasar. Karena itu, dialog intensif dan kampanye positif di India menjadi strategi untuk menciptakan kepastian dagang.
Terakhir, persepsi dan tuntutan pasar. Sawit masih dianggap inferior dibanding minyak nabati lain, terutama di segmen kelas menengah ke atas. Padahal, dari sisi nutrisi maupun efisiensi, sawit punya keunggulan. Perubahan persepsi, menurut Fadhil, hanya bisa dicapai melalui edukasi publik dan kampanye berkelanjutan. Selain itu, pasar India kini mulai menuntut produk sawit yang berkelanjutan, sejalan dengan tren global menuju praktik ramah lingkungan.
BACA JUGA: Henky Satrio Wibowo, Dari NGO Terjun ke Industri Sawit
“Hubungan dagang sawit Indonesia–India harus melampaui sekadar transaksi tradisional. Ia perlu merambah kerja sama penelitian, investasi, hingga kampanye bersama untuk memastikan keberlanjutan pasar,” ujar Fadhil. (T2)
