InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah keramaian RT2025 Kuala Lumpur, Henky Satrio Wibowo melangkah tenang. Baru beberapa hari sebelumnya, ia ditunjuk sebagai Direktur Sustainability SSMS—babak baru dari perjalanan panjangnya di dunia keberlanjutan.
Di antara lalu-lalang peserta RSPO Annual Roundtable Conference on Sustainable Palm Oil (RT2025), seorang pria tampak berjalan tenang. Henky Satrio Wibowo, mengenakan kemeja sederhana tanpa banyak aksesoris, berdiri seakan tak terburu oleh ritme konferensi internasional yang padat. Tak ada gegap gempita ketika ia menyapa beberapa kolega. Namun, sorot matanya memantulkan sesuatu yang jauh lebih dalam, keteguhan seorang profesional yang telah menempuh perjalanan panjang menuju satu kata kunci — keberlanjutan.
Akhir Oktober 2025 menjadi penanda baru dalam kariernya. Henky resmi menduduki kursi Direktur Sustainability PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), posisi strategis yang menempatkannya di pusat transformasi industri sawit berkelanjutan. Bagi internal SSMS, Henky bukan nama asing. Ia dikenal sebagai pekerja yang rapi, konsisten, dan kukuh memegang nilai. Bukan tipe yang banyak bicara, tetapi tipe yang lebih suka mengerjakan sesuatu sampai tuntas.
BACA JUGA: POPSI Tegaskan Penyelesaian Sawit Rakyat Harus Lewat Penataan, Bukan Penertiban
“Saya senantiasa melakukan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab,” saat berbincang dengan InfoSAWIT di sela-sela konferensi. Kalimat pendek, disampaikan tanpa dramatisasi. Namun bagi mereka yang mengikuti perjalanannya, pernyataan itu seperti pintu kecil menuju lorong panjang dedikasi, disiplin, dan visi yang tidak mudah goyah.
Henky menyelami industri sawit secara serius pada 2021—tahun yang bagi sebagian orang dianggap memulai terlalu lambat. Tetapi justru dari “keterlambatan” itu ia membawa sesuatu yang lebih berharga, 22 tahun pengalaman kerja di dunia NGO, nasional maupun internasional. Pengalaman yang tidak melulu tentang dokumen strategis, tetapi tentang interaksi langsung dengan isu sosial—anak, kesehatan masyarakat, pemberdayaan komunitas, antikorupsi, masyarakat adat, lingkungan, hingga perubahan iklim.
BACA JUGA: 5.250 Benih Sawit Ilegal Digagalkan di Bandara Radin Inten II, Karantina Lampung Perketat Pengawasan
Dengan modal itulah ia cepat membaca konteks industri sawit, memahami tantangan, memetakan risiko, dan merumuskan solusi yang menyentuh akar persoalan. Ia membawa “napas baru” dalam upaya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam praktik bisnis. (T1)
