Dari kampus INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Andreas W. Krisdiarto, M.Eng menghadirkan terobosan baru di dunia perkebunan kelapa sawit. Bersama timnya, ia merancang sebuah sistem pemuatan tandan buah segar (TBS) berbasis teknologi cerdas—solusi mutakhir untuk sektor yang selama ini masih bergantung pada tenaga kerja manual.
Sebagai seorang dosen di Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER Yogyakarta, Dr. Andreas bukan hanya pengajar di ruang kuliah. Ia adalah peneliti aktif dengan fokus utama di bidang mekanisasi panen dan pascapanen perkebunan. Penelitian terbarunya yang bertajuk “Truk Cerdas Pemuat TBS Kelapa Sawit” merupakan salah satu dari hanya 57 proposal yang berhasil lolos pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDPKS) dalam ajang Grant Riset Sawit Tahun 2024—mengungguli sekitar 700 proposal lainnya dari seluruh Indonesia.
“Selama ini proses pemuatan TBS ke truk dilakukan secara manual. Selain tidak efisien, proses tersebut juga rentan menimbulkan kecelakaan kerja,” ujar Dr. Andreas dalam keterangannya kepada InfoSAWIT, awal Mei 2025. Lewat pendekatan mekatronika, timnya merancang sistem otomatisasi yang menggabungkan teknologi mekanisasi, sistem kontrol, dan pemahaman mendalam terhadap sifat fisik TBS.
BACA JUGA: Kolaborasi SPKS, PalmCo, dan BPDP Dorong Percepatan PSR Petani Sawit Swadaya di Jambi
Penelitian ini melibatkan kolaborasi tiga dosen dari INSTIPER—Eko Aris Budi Cahyono, Teddy Suparyanto, dan Irya Wisnubhadra—serta dua perguruan tinggi lain dari klaster utama dan mandiri. Tidak hanya mengedepankan hasil, proyek ini juga membuka ruang belajar bagi mahasiswa Teknik Pertanian INSTIPER, yang turut dilibatkan dalam riset sebagai bagian dari proses transfer pengetahuan dan pelatihan riset berbasis teknologi.
Dr. Andreas bukan sosok baru dalam pengembangan keteknikan pertanian. Lulusan doktoral dari Universitas Gadjah Mada ini telah delapan tahun berturut-turut mendapatkan hibah penelitian eksternal—bukti konsistensinya dalam membangun ekosistem riset berkelanjutan. Ia juga merupakan alumni Asian Institute of Technology, Thailand, yang memperkaya pendekatannya dalam integrasi teknologi modern di sektor pertanian.
BACA JUGA: WALHI Desak Penyelesaian Konflik Agraria Sawit PT SAA, Pemkab Mahakam Ulu Diminta Lindungi Hak Warga
Sebagai Kepala LPPM INSTIPER, ia menegaskan pentingnya mahasiswa memahami keseluruhan sistem mekanisasi, dari jalan kebun hingga pengolahan limbah dan manajemen air. “Teknik pertanian tidak hanya soal traktor atau mesin panen. Kita bicara tentang sistem industri yang berkelanjutan dan efisien,” ujarnya. (T2)
