InfoSAWIT, JAKARTA — Di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, langkah menuju perkebunan sawit berkelanjutan mulai menapak pasti. Bupati Sekadau, Aron, menegaskan bahwa bagi dirinya, sawit bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan jalan menuju kesejahteraan yang bertanggung jawab — bagi petani, masyarakat, dan lingkungan.
Sejak dilantik sebagai Bupati Sekadau pada 19 Juni 2021, Aron terus mengarahkan kebijakan daerahnya agar sektor sawit tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada cara tanam yang benar. “Selama dua tahun terakhir ini, kami belajar bahwa budidaya sawit berkelanjutan itu penting,” ujarnya dalam perbincangan dengan InfoSAWIT baru-baru ini.
Nada suaranya tenang, tapi tegas. Ia ingin menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan nyata yang harus diterjemahkan dalam kebijakan dan tindakan konkret. Dari sinilah, Pemerintah Kabupaten Sekadau mulai mengambil langkah nyata — menyalurkan sebagian Dana Bagi Hasil (DBH) sawit, di mana 20 persen dialokasikan untuk mendukung sertifikasi perkebunan dan penyediaan bibit sawit unggul.
BACA JUGA: RSPO Dorong Pasar Pahami Dampak Nyata Dukungan terhadap Petani Sawit Kecil
“Kami ingin petani tidak hanya menanam, tapi menanam dengan cara yang benar, dengan bibit yang berkualitas, supaya hasilnya pun berkelanjutan,” kata Aron.
Namun, di balik upaya itu, ada satu hal yang menjadi perhatian seriusnya: harga tandan buah segar (TBS) bagi petani yang telah memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Aron berharap, petani yang sudah berkomitmen menerapkan praktik berkelanjutan memperoleh insentif harga yang lebih tinggi.
“Mestinya harga TBS yang sudah ISPO lebih tinggi daripada yang belum. Itu bentuk penghargaan paling nyata bagi petani,” ujarnya. Ia menilai, insentif langsung pada harga akan jauh lebih efektif memotivasi petani untuk mengikuti sertifikasi dibandingkan bantuan lain yang dampaknya tidak langsung terasa.
BACA JUGA: Produktivitas Tinggi Dorong Pertumbuhan Bisnis CSRA, Laba Bersih Naik 70 Persen
Di Sekadau sendiri, upaya menuju sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) masih terus berproses. Hingga kini, baru dua kelompok petani yang mulai menapaki jalur sertifikasi tersebut. Bagi Aron, capaian itu bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju perubahan.
“Ini seperti menanam, butuh kesabaran, perawatan, dan keyakinan bahwa hasilnya kelak sepadan dengan usaha yang dilakukan. Kami terus dorong agar semakin banyak petani yang ikut,” ujarnya.
Jejak Pemimpin dari Desa
Perjalanan Aron menuju kursi kepemimpinan adalah kisah tentang ketekunan seorang anak desa. Lahir pada 13 Oktober 1974, ia menghabiskan masa kecil di tengah kesederhanaan di pedalaman Sekadau. Ia menempuh pendidikan di SDN Nomor 12 Nyonak, Nanga Mahap, lalu melanjutkan ke SMP Suparna Senangak Nanga Taman, dan menamatkan SMA di Sekadau.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Dorong Kinerja Minyak Sawit Berkelanjutan
Dari ruang-ruang belajar yang sederhana itulah Aron melangkah ke Universitas Tanjungpura Pontianak, tempat ia meraih gelar sarjana. Karier politiknya pun dimulai dari bawah — menjadi anggota DPRD Sekadau hingga empat kali terpilih berturut-turut, sebelum akhirnya dipercaya rakyat untuk memimpin daerahnya. (*)
